06 Sep

Anak Tangga Bernama Kesalahan

Oleh Prasetya M. Brata pada 2008-09-06 20:57:00

 

Pagi itu memang intention saya bisa tampil di televisi terwujud. Tiga tahun lalu, saya pernah tampil di Metro TV bersama James F. Sundah dalam acara Midnight Live dengan komentar seragam dari para teman dan saudara yang menonton : ... kok kamu tegang banget sih ?.
 
Di lokasi shooting di Gelora Bung Karno saya mengalami 'shock' kecil di awal-awal. Pertama, itu acara live yang dalam 'aturan' saya mustilah perfect. Kedua, saya baru tahu di lokasi kalau saya disandingkan bareng Andrie Wongso, motivator no. 1 di Indonesia. Keberuntungan yang 'menakutkan'. Untunglah saya punya 'modal' sedikit. Pengalaman memberi training ribuan orang, dan beberapa kali on air di stasiun radio membuat saya makin bisa mengelola 'state'. Meskipun akhirnya ketika acara live itu running saya merasa 'mantap' dan in the mood, ternyata tidak luput dari kesalahan-kesalahan.
 
"Tadi kamu duduknya terlalu santai, jadinya kurang enak dilihat ..", kata kakak ipar saya memberi komentar atas penampilan live saya di TV One tadi pagi. Komentar ini diamini oleh kawan lama saya Titik. SMS dari teman baru saya Ciekciek lain lagi : "pakaiannya kayak mau ujian negara". Kalau ibu saya bilang begini : "kamu kayak sombong ...". Salah sebuah SMS bahkan meminta 'maaf' dulu ketika memberi masukan kepada saya. Padahal, semua kritik tadi saya terima dengan senang.
 
Waktu pertamakali siaran di radio, di awal-awal tegang. Saya demam corong. Setelah saya putar ulang rekaman siaran tadi, saya sendiri mikir, pendengar tanya apa saya jawabnya kemana .. nggak nyambung. Siaran kedua, sang GM radio tersebut memberi masukan, kalau saya sedang bicara di depan mik, kepala jangan goyang-goyang, tapi tetap manteng di corong itu supaya power-nya 'lurus'. Kalau kepala geleng-geleng, pendengar tidak merasa saya sedang berbicara kepada mereka. Ooo gitu toh ? ... maklum, terbiasa di kelas pelatihan yang full gerak.
 
Selalu ada kesalahan dan kekurangan di kali pertama. Karena kesalahan itulah, sekarang saya jauh lebih rileks dan lancar kalau berbicara di depan corong radio. Kesalahan pertama rupanya merupakan anak tangga yang harus dipijak agar bisa 'naik' ke tangga berikutnya. Ibarat panggung yang tinggi, untuk bisa berada di atas panggung tadi, menginjak anak tangga pertama adalah suatu keniscayaan. Tidak bisa tidak. Ya bisa sih, kalau punya ilmu meringankan tubuh lalu dari 'daratan' langsung loncat ke atas panggung.
 
Salah seorang staf saya di awal-awal kepemimpinan saya termasuk orang yang dianggap 'bermasalah' oleh lingkungan kerja. Kalau dia melakukan sesuatu tidak sesuai dengan harapannya -- misalnya salah, atau dikritik orang lain -- dia bisa menangis sejadi-jadinya di sebuah pojok ruang kosong. Sebaliknya, kalau ketika dia memberi training peserta 'kagum', dia amat sangat sumringah sambil re-play lagi komentar-komentar orang yang memujinya. Di awal-awal, yang terjadi hampir setiap hari kesalahan-kesalahan dia. Staf yang satu lagi punya etos kerja yang masih lemah. Orang bilang, dia malas dan ogah-ogahan. Ketika beberapa orang kunci di lembaga saya menyarankan saya tidak memakai mereka lagi karena dianggap tidak 'performed', saya cuma bilang, "Kalau dia kita kembalikan ke perusahaan induk, dan yang satunya lagi kita PHK, lalu siapa yang akan memintarkan mereka ?". Suatu keputusan yang tidak populer dari kacamata bisnis.
 
Kini, staf saya sudah banyak 'bisanya'. Kalau dikritik orang, dia tidak lagi down berat. Sebaliknya, dia sudah menyadari kalau dipuji, tidak limbung dan tetap waspada. Dia bahkan beberapa kali mendatangkan proyek bagi lembaga yang saya pimpin. Buah dari kesabaran yang panjang didasari keyakinan seseorang akan berubah menjadi baik kalau dia MAU. Staf saya itu, Cut Saraswati, membuktikannya.. Meskipun tetap ada juga kekurangan yang perlu ditambal sana-sini, tapi 'maqom'-nya sudah naik lebih tinggi. Sedangkan staf saya yang satu lagi sudah lama mengundurkan diri karena tidak 'tahan' dengan 'gojlokan' saya. Dia memilih jalannya sendiri.
 
Dikritik, diberi masukan, dikomentari pedas, ibaratnya adalah rasa sakit ketika kita sedang latihan beban di gym. Tapi rasa sakit itulah yang bikin otot kita jadi besar dan kuat. Tanpa menerima dengan ikhlas rasa sakit itu, kita akan menghindari tindakan-tindakan yang membuat sakit itu, sehingga kita tidak pernah jadi besar. Rupanya cara untuk mengatasi rasa takut menghadapi sesuatu yang baru adalah : jalani saja ...***

Komentar ()

Artikel Terkait