04 Mar

I Hate That Smile

Oleh Prasetya M. Brata pada 2012-03-04 14:02:00

Tahu-tahu saya sudah berada di tengah perbincangan beberapa teman mengenai seseorang. Saya sadar berada dalam pusaran gosip. Mereka membicarakan orang yang sama.
 
A : "Dulu gue pernah berantem sama dia gara-gara dia ngomong bla...bla...bla...
B : "Gue pertama kali ketemu dia bawaannya udah nggak cocok. Kemistri-nya lain"
C : "Maunya menang sendiri, pinter sendiri..."
D : "Ngeliat senyumnya aja bawaannya udah nyebelin dan bikin sepet mata...".
A, B, C : "Hahahaaa, benerrrr....".
 
Saya juga mengenal orang yang dibicarakan ini. Saya bukannya tidak paham apa yang mereka pikirkan dan rasakan, karena saya pernah punya pikiran dan perasaan yang sama. Hahaha. Dalam satu waktu, saya pernah membicarakan kebaikan orang ini dan justru malah mendapat komentar sinis dari beberapa orang yang punya 'bad experience' dengan orang ini. 
 
Ketika cerita non-fiksi ini saya jadikan status facebook : "Ada orang yang dari senyumnya saja sudah nyebelin dan bikin mata sepet... tapi perhatikan lebih dalam... dialah yang akan memberimu lebih banyak pelajaran...", beragam komentar dan reply berdatangan, antara lain :
 
"Pelajaran agar tidak menjadi orang yang nyebelin kayak orang itu ya pak ?"
 
"Gimana memperhatikan lebih dalam? Ngeliatnya aja sudah bikin sebel..."
 
"Pelajaran tentang arti sebuah kesabaran..."
 
"Semakin dalam semakin sebel tau pak..."
 
"Kata Azis Gagap, jangan liat casingnya, tapi liat kemampuannya :-D"
 
Ada komentar lucu dari teman saya Nandra F. Piliang, "Semakin dalam semakin mau tak gampar mas..". Saya lantas menimpali, "Nah, nanti kan akan semakin dapat pelajaran ... coba aja mas". Dia lalu membalas, "Bukan pelajaran mas, tapi malah dia menghajar balik...". Saya bilang, "Lha ya itu maksud saya, dia memberi pelajaran...". Nandra : "Asem...".
 
Komentar dari teman muda Krisna Dwipayana cukup tajam : ".. atau jangan-jangan orang itu mirip kita, Pak? Bisa aja 'kan kita nggak sadar sedang 'bercermin' pas melihat orang itu? Atau mungkin juga 'persepsi' kita saja kalau orang tersebut mukanya kayak gitu. Apalagi kalau misal kita membawa 'emosi' dalam melihat orang itu...". Komentar ini menarik karena sepertinya ia mengerti tentang cara manusia memberi penilaian. Sayapun membalas, "itulah pelajaran besar dari melihat orang itu, bukan?... Ternyata yang mendapat manfaat adalah diri sendiri karena tahu pelajaran untuk berubah memperbaiki diri lebih baik lagi..."
 
Ketika ada yang berkomentar, "Gimana mau memperhatikan lebih dalam? Ngeliatnya aja sudah bikin sebel...", saya membalas : "Makin sebel berarti makin dapat feedback tentang kualitas emosi kita sendiri bukan?. Dari situ kita mendapat cermin untuk bertumbuh, bukan?".
 
Ketika kita suka atau tidak suka kepada seseorang, sebenarnya yang kita sukai atau tidak sukai bukan orang itu sebagai realitas, melainkan gambaran pikiran kita mengenai orang itulah yang membuat kita suka atau tidak suka. Gambaran dalam pikiran tersusun dari serangkaian gambar-suara-rasa, yang ketika berada di layar pikiran saja sudah mengalami bias akibat kondisi panca indera dan filter mental yang bernama distorsi, generalisasi, dan penghapusan. Pemberian arti terhadap apa yang hadir dalam layar pikiran kita berdasarkan referensi kita terhadap nilai-nilai yang kita anut sebelumnya, dan pengalaman masa lalu yang sama atau mirip-mirip, yang dihubung-hubungkan. Padahal masa lalu itu komponen manusia yang terlibat, durasi waktu, tempat dan suasananya sudah berbeda dengan kejadian yang ada di depan kita saat ini.  Dengan demikian penilaian terhadap seseorang sebenarnya tidak menggambarkan 'nilai' orang itu, melainkan 'kemampuan' kita dalam memberi nilai. 
 
Jelasnya, jika seseorang mengatakan orang lain 'jelek' kepada wajah kita, maka bukan wajah kita yang jelek, melainkan kompetensi orang itu menyebabkan proses berpikir di dalam kepalanya menghasilkan gambaran wajah kita yang dalam layar pikirannya dikategorikan sebagai 'jelek'. Lebih jelas lagi begini. Tuhan itu Maha Sempurna, menciptakan dengan cara yang sempurna, dan ciptaannya pasti sempurna. Jika wajah anda yang sempurna ini dibilang jelek oleh seseorang, maka jelek itu menggambarkan kemampuan orang itu dalam 'melihat' ciptaan Tuhan. Jadi anda tenang saja. Tapi kalau wajah atau senyum kita sampai menimbulkan emosi negatif pada seseorang, misalnya sebel, marah, bete, maka kita perlu waspada, jangan-jangan ada kelakuan kita di masa lalu yang dihubungkan oleh orang itu dalam pikirannya dengan wajah atau senyum kita. Meskipun tidak menutup kemungkinan orang itu sedang menghubungkan gambaran wajah atau senyum kita dengan kelakuan orang lain yang memiliki kemiripan atribut dengan kita, tetapi tetap bermanfaat jika kita introspeksi, jangan-jangan ada hal-hal yang kita lakukan menyinggung dan menganiaya orang lain.  
 
Tanpa dinyana, sahabat saya Nong membuat note yang isinya 'menjawab' alias meluaskan lagi sudut pandang dengan mengatakan : sebetulnya, menurut saya, senyum yang bikin BETE itu awalnya dari hati yang selalu BETE.
 
Tetapi yang paling indah saat ini adalah saya mendapat hipotesis adanya hubungan antara cara berpikir, kelakuan, dan cara senyum. Bikin penasaran saja. Sementara saya belum mendapat kebenaran empiriknya, lebih baik saya mulai menjaga perkataan dan kelakuan biar orang lain tidak berbuat dosa karena ngerumpi-in hal-hal buruk tentang saya. "Kalau senyum saya bagaimana Pak?", tanya seorang teman facebook yang cantik. Keganjenan saya langsung terbit dan menjawab, "Senyummu bikin pria galau...".***

Komentar ()

Artikel Terkait