05 Nov

Siapa Sesungguhnya Penguasa Pikiran ?

Oleh Prasetya M. Brata pada 2011-11-05 14:03:00
Masih soal berlatih mendengar suara hati, yang kadang berhasil, kadang gagal. Saat membuka mata di pagi hari tanggal 5 November 2011, selesai menunaikan kebutuhan berkomunikasi dengan Tuhan, saya mengingat-ingat apakah hari itu ada 'acara keluar'. Saya segera membuka agenda elektronik yang menyatu di BB saya, dan memeriksa tumpukan surat undangan. Seorang alumni sekolah tinggi dimana saya pernah menjadi ketua yayasan menikah pada hari itu.
Undangan itu sudah ada beberapa hari lalu di tumpukan itu disertai dengan rasa senang karena masih 'diingat' oleh seseorang yang bahkan tidak sering bersapa saat di kampus. Hari itu saya punya rencana seharian 'ngutak-atik' materi pelatihan publik yang akan saya fasilitasi minggu depan. Saya juga sudah lebih dari tiga minggu tidak berkencan dengan ibu mertua saya.  
Pagi itu saya mencoba mendengar apa saran suara hati. Pagi bikin materi, sore ke rumah mertua, malam ke kondangan, itu suara yang muncul. Singkat cerita, kemalasan yang bersarang di subconscious-mind membajak hidup saya hari itu. Pembenarannya itu hari Sabtu. Saya baru mulai membuat materi pelatihan menjelang Ashar setelah mandi 'pagi' jam setengah dua siang. Itu juga karena terbangun dari tidur lagi. Rasa 'tanggung' -- persisnya rasa malas berhenti dan memulai lagi -- menyebabkan saya mengorbankan rencana untuk pergi ke rumah ibu mertua saya. Pembenarannya, besok 'kan Idul Adha, jadi sekalian berlebaran haji ke ibu mertua. Toh, cuma beda sehari. Tidak apa-apa 'kan.  
Angka jam di sudut laptop menunjukkan menjelang jam 6 sore. Adzan maghrib baru saja berlalu. Takbir di mesjid mulai terdengar sayup-sayup. Rasa tanggung -- persisnya rasa malas berhenti -- masih memborgol. Isteri saya lewat BBM-nya sudah bertanya apakah saya jadi pergi atau tidak. Pertanyaan itu membuat saya berhenti sejenak dari aktivitas saya, dan kembali hening untuk mendengar suara hati. Suara hati tetap konsisten : datang ke kondangan.
Saya masih membutuhkan waktu sekitar 10 menit bertengkar dengan sub-conscious mind saya yang memprovokasi diri saya merasakan kondisi tubuh. Saya saat itu juga merasa 'kurang enak badan'. Saya juga diminta membuka denah lokasi gedung dan menemukan tempatnya cukup jauh dari rumah saya, yaitu Cililitan. Alasan lain, toh saya dapat memakai 'rasa' yang saya ciptakan itu untuk menjadi pembenaran ketidakhadiran saya di kondangan. Saya dapat mem-BBM, atau meninggalkan pesan di inbox FB yang meminta permakluman saya tidak hadir, sambil basa-basi memberi restu untuknya.
Saya sudah banyak kalah hari itu dengan pembenaran, masak saya kalah total hari itu? Kali ini suara hati saya harus menang !. Saya terima seluruh rasa 'tidak enak badan' itu, saya rangkul si rasa malas, dan saya ucapkan terimakasih kepada mereka sudah membuat saya nyaman beristirahat di rumah, lantas saya ajak mereka mendukung saya menjalankan misi hidup dengan cara memenuhi undangan perkawinan.  Menjalani misi hidup memang tidak enak. Saya terima tidak enaknya, lalu saya mulai menggunakan pikiran dengan membuka peta di Ipad. Dari peta itu, saya mulai menemukan jalan tercepat menuju Cililitan, yang tadinya tidak terpikir.  
Hanya dalam hitungan 45 menit, saya sudah sampai ke lokasi dari rumah saya di bilangan Ciputat.  Di sana, saya gembira menyambut dan disambut teman-teman alumni dan mahasiswa yang saya kenal. Kejutan terjadi saat mengantri salaman, tiba-tiba seorang panitia menyetop antrian di belakang saya, dan menyilakan saya untuk nanti berfoto bersama mempelai dan digiring ke tempat VIP makan. Yang bikin saya kaget saat itu bukan 'perlakuan khusus'-nya karena menjadi tamu VIP bukan kali yang pertama buat saya, namun saya tidak menyangka karena saya sudah 'mantan' ketua yayasan. Ternyata saya bukan undangan biasa.
Sesaat sebelum blitz kamera menyala, Agnes, sang mempelai wanita kembali berbisik mengucapkan terimakasih banyak saya telah hadir.  Saya tidak tahu apa arti diri saya untuk Agnes, tapi wajah dan nada suaranya menyiratkan kebahagiaan. Justru  kata-kata Agnes ini yang seketika itu membuat saya merinding sekaligus bersyukur karena dapat membuat wajah Agnes tersenyum.
Di mobil menjelang saya meninggalkan gedung resepsi, saya sempatkan melapor kepada isteri saya, hari ini saya bahagia karena telah berhasil memenuhi harapan seseorang.  Isteri saya berkomentar melalui BBM : "Pantes hati nuranimu menyuruhmu pergi :-)". ***

Komentar ()

Artikel Terkait