20 Jun

Yang diserahkan bukan jawabannya

Oleh Prasetya M. Brata pada 2009-06-20 23:38:00

Salah seorang dari 1.800 teman facebook mengirim pesan. Ia tanya nomor handphone saya. Ia ingin 'belajar menata pikiran dan hati'. Saya menduga, ini pasti urusan rumah tangga. Setelah beberapa hari tidak kunjung ditelepon juga, lalu saya mengirimkan pesan kalau agak kesulitan menghubungi saya, ia bisa menuliskan 'pengantar' atau 'mukaddimah' masalahnya lewat surat elektronik.

Ia menjawab, ia sudah bisa menata hati dan tegar. Suaminya sudah bercerita dari A sampai Z hubungannya dengan perempuan lain. Ia introspeksi dan minta maaf kepada suaminya karena banyak kekurangan. Ia bertahan karena ia yakin anak-anaknya pasti akan jadi orang besar. Ia bertahan demi kebahagiaan mereka.

Dari kalimat yang ia tulis, saya merasakan adanya keinsyafan dari teman saya itu untuk melihat ke depan. Sebagai peristiwa yang mengguncang emosi, mereka pasti butuh waktu untuk melalui proses recovery. Buktinya, waktu saya tawarkan suaminya ikut pelatihan saya di sebuah kota, ia bilang jangan dulu karena masih 'cooling down'. Sang perempuan lain itu masih berharap, katanya.

"Mas, betul tidak sih pikiranku ini, bahwa wanita sebaik apapun jika sudah menodai rumah tangga orang lain, apakah ia masih berstatus jadi wanita baik-baik lagi ?", tanya dia dalam perbincangan di yahoo messenger.

Keinsyafanpun akan diuji.

"Menurutmu, kalau kamu berada pada posisi perempuan itu bagaimana ?", tanya saya balik.

"Kami tidak akan melanjutkan, karena jika melanjutkan aku akan bahagia di atas penderitaan orang lain yang notabene keluarga lakiku sendiri, dimana lakiku berada bersama isterinya setiap hari. Itu bukan cinta, tapi keegoisan", kata teman saya itu.

Saya mafhum, setiap wanita yang berada posisi teman saya itu, menurut perkiraan saya jawabannya akan serupa. Itu adalah jawaban 'sadar'. Masalahnya, urusan cinta adalah urusan perasaan, sudah berada di wilayah 'bawah sadar' yang dalam satu sumber disebut punya kekuatan sembilan kali lebih kuat daripada wilayah 'sadar'.

Saya bilang, "Yang terjadi adalah ketidakberdayaan dua orang termasuk suamimu dalam mengendalikan perasaannya sendiri. Mereka dikendalikan oleh perasaan mereka sendiri."

Saya melanjutkan, "Lagipula, apakah berguna buatmu memikirkan perempuan itu ?. Mau baik-baik kek, atau sudah tidak baik-baik kek, kalau dipikirin apa ada manfaat positifnya buat recovery hubunganmu dengan suamimu ? Apa bukan yang penting buatmu itu adalah membuat suamimu 'kembali' hatinya kepada kamu ?"...

"Betul mas, aku akan menjadi wanita yang menjaga sikap dan mengerti keinginan suamiku..", katanya.

Saya lalu candain, "bukan cuma mengerti, tapi perlu juga 'dimengerti' .. Caranya dimengerti adalah menyatakan keinginan tanpa mendikte suami ..., nanti kapan-kapan kita bahas. Sekarang, apa yang kamu mau lakukan supaya menjalani 'jaga sikap' dan 'mengerti keinginan suami' itu dengan IKHLAS ?"

Jawabnya, "Tidak menuntut apapun darinya, yang penting aku melakukan apapun dengan tidak tebebani, dan bersyukur pada Tuhan. Tadinya aku berharap ini itu darinya, yaitu sholat, menutupi kekurangan keuangan atau ekonomi keluarga, karena belum ikhlas. Aku sering menangis dalam sholat, supaya bisa melewati ini semua dengan tegar..".

Saya bilang, "Menangis itu jangan-jangan karena kamu memikirkan apa yang TELAH dia lakukan dan apa yang telah terjadi ? ..."

Dia bilang, "Banyak hal yang membuat aku menangis. Yang telah dia lakukan, dan masa depan. Juga menangis karena mencintai Tuhan .. merasa Tuhan masih menyayangiku .. Aku hanya menyerahkan ujian ini kepada Allah SWT ... ".

Aku langsung menyela, "Lhoooooo .... lha wong Tuhan itu kasih ujian kepada kita untuk kita jawab, kok malah jawabannya diserahkan lagi ke Tuhan jawabannya ? ... Jangan belum apa-apa terus diserahkan kepadanya, seolah yang tanggungjawab adalah Tuhan. Ini namanya kita nggak bertanggungjawab. Tuhan itu akan mengubah keadaan kita kalau kita sendiri yang sudah usaha merubahnya. Kunci jawabannya itu sebenarnya sudah diturunkan Tuhan sekaligus besama dengan soalnya. Kita cuma tinggal disuruh mencari saja di sekitar kita. Nahh .. yang diserahkan kepada Tuhan itu hasilnya .. ponten-nya..."

Dia langsung bilang, "Tapi, kata suamiku, perasaan dia kepada perempuan itu karena campur tangan Tuhan .. tidak bisa dikendalikan sampai sekarang. Mereka masih tidak bisa mengendalikan perasaan itu ..".

"Hahahaha ... kata-kata suamimu itu hanyalah ketidakberdayaan dirinya mengendalikan perasaannya, lalu dia blame Tuhan. Tuhan ia kambinghitamkan ... Lagipula mau tahu masalahnya ? ... karena suamimu sudah bilang sendiri 'masih tidak bisa mengendalikan perasaan itu ..'. Sebenarnya bisa, hanya tinggal cari tahu caranya saja ...", jawab saya.

Saya melanjutkan, "Nahhh .. sekarang fokus saja kepada apa yang ada dalam kendali kamu. Bayangkan dengan jelas dan detail dalam pikiranmu setiap habis sholat, apa yang kamu inginkan akan terjadi pada dirimu, dirinya, dan rumah tanggamu. Lalu bayangkan dan rasakan sepertinya apa yang kamu inginkan itu telah terjadi ... Setelah itu bilang 'amiiiin'. Itu sudah doa .. Kalau ikhlas, Insya Allah terjadi."

Karena teman saya itu 'naga-naganya' tidak bisa lama-lama chatting dari warnet, saya langsung memberi saran, "Minta suamimu jadi imam sholat. Tapi mintanya bukan, 'ayo sholat dan imami aku ..', tapi nyatakan keinginanmu 'aku ingiin sekali sholat kali ini jadi makmum kamu ..'. Dan kalau itu dia lakukan, setelah itu ucapkan dengan lembut, 'terimakasih'. Sering-sering ucapkan 'terimakasih', nanti kan ada bedanya..."

"Thanks banget mas ..", katanya.

"Udah baca note-ku di facebook yang judulnya '25 alasan aku berterimakasih kepada isteriku' ?", tanya saya.

"Udah mas. Kamu hebat bisa mengucapkan terimakasih atas hal-hal kecil yang dilakukan isterimu. Suamiku belum .. Tapi aku tidak mengharapkan itu ..", kata teman saya itu ...

Kalimat teman saya ini jelas sekali menyiratkan kerinduan dan harapan dia bahwa suaminya memperhatikan dan berterimakasih terhadap hal-hal kecil yang ia lakukan juga untuk suaminya, meskipun dibungkus oleh kalimat penutup ego "tapi aku tidak mengharapkan itu ..".

Saya menjawab, "Yaa kamu tidak harus membuat note di facebook, atau menyerahkan surat ucapan terimakasih itu kepada suamimu. Tapi kalau kamu membuat 25 alasan kamu berterimakasih kepada suamimu, setidaknya akan memperkuat sinyal dan energi positifmu dalam menjalani proses recovery ini ...".

Tiba-tiba dia menghilang. Catatan di layar komputer, dia sign-off. Mungkin dia buru-buru sehingga belum sempat pamitan ...***

Komentar ()

Artikel Terkait