13 Aug

Hormati Orang Yang Berpuasa

Di koridor mall, satu  jam sebelum waktu berbuka puasa, saya baru saja menyelesaikan hajat potong rambut. Saat sedang melihat-lihat isi toko dari luar, tiba-tiba saya disalib oleh seorang perempuan. Dalam sepersekian detik dalam hati saya langsung berucap "astaghfirullah". Dalam sepersekian detik pula saya langsung berhenti melangkah dan mengambil blackberry saya untuk memeriksa apakah ada pesan baru hanya untuk mengalihkan jendela kamera visual saya dari objek tadi. Mengapa objek tadi begitu dahsyatnya mem-break perilaku saya ?. Karena sekelebat sosoknya ia berambut panjang lurus, berbadan seksi, berkulit putih dan hanya mengenakan tank-top plus celana pendek super mini ketat. Lho ? bukankah itu pemandangan yang biasa di mal-mal sekarang ini ?. Ya ... Tapi sore itu adalah bulan Ramadhan.

Lantas memangnya ada apa dengan bulan Ramadhan ?. Memangnya selain bulan ramadhan anda  bereaksi berbeda ?, mungkin begitu tanya anda kepada saya.  

Memang, ukuran untuk sebuah kepantasan berpakaian dari tahun ke tahun mengalami perubahan. Konon, di era 50-60-an, ada betis perempuan tersingkap di film atau di majalah dapat membuat dada lelaki 'serrrrrr'. Di era 80-an, kalau cuma betis sih belum 'nendang'. Makin lama area tertutup di tubuh perempuan menjadi menyempit. Kelakar jayusnya, makin lama perempuan makin 'kurang bahan'.  Ini terjadi akibat mekanisme pikiran, dimana suatu peristiwa yang menimbulkan gambar-suara-rasa tertentu akan disimpan di dalam memori dan menjadi acuan atau referensi bagi pengalaman selanjutnya. Kalau kemarin melihat gadis memakai rok mini bikin 'serrr', kalau pengalaman itu terjadi berulang-ulang sudah tidak menimbulkan rasa 'serrrr' lagi, karena sang rasa sudah diterima. Ada ekonomi ada the law of diminishing return. Jangankan soal ini. Hal yang salah jika dialami berulang-ulang lama-lama dianggap sebagai suatu yang benar. Korupsi yang dulunya salah, di kelompok tertentu justru dianggap sebagai kelaziman yang berlaku.

Itulah sebabnya, mengapa kita diminta oleh ajaran agama untuk menjaga pandangan mata, supaya tidak sempat 'mematikan' perasaan yang jati diri awalnya adalah early warning system bagi diri kita. Jujur saya akui, sangat sulit untuk menghindarkan mata dari menangkap sosok perempuan-perempuan 'kurang bahan' itu di public area. Hanya saja yang membedakan, ada yang mempertahankan kualitas dan durasi tatapan untuk menikmati kinestetik berupa rasa 'serrrrr', ada juga yang tersadar dan segera mengalihkan sensory-nya ke arah lain agar visual di layar bioskop pikiran berubah sehingga rasa (kinestetik)-pun ikut berubah menjadi lebih netral.  Kalau saya sedang 'khilaf', maka titik 'kesadaran' saya agak 'lemot'. Sadar sih sadar, tapi durasi 'tidak sadar'-nya agak lama.

Keberkahan bulan ramadhan dan ibadah puasa adalah kesempatan saya berlatih untuk lebih sering dan lebih lama berada di 'kesadaran'. Maka, reaksi 'astaghfirullah' saya saat itu benar-benar muncul dari pikiran 'mengurangi nilai puasa' dan perasaan 'takut'. Beberapa waktu sebelumnya di status facebook, beberapa kali saya menyindir perempuan-perempuan berpakaian mini-ketat atas-bawah berkeliaran di area publik. Tentu saja perempuan-perempuan itu kemungkinan besar tidak tahu sindiran saya, tetapi saya berharap status-status saya menjadi provokasi bagi sahabat-sahabat facebook saya. Bahwa kalau ada mata jelalatan ke arah kita, introspeksi dulu, jangan-jangan kita memang menyediakan diri alias menjadikan diri kita layak dan pantas untuk dijelalati.

Kalau saya pernah menulis artikel berjudul 'Hormatilah Orang Yang Tidak Berpuasa', apakah itu termasuk menghormati perempuan-perempuan berpakaian mini-ketat ?. Saya jawab tegas : TIDAK... Karena perempuan-perempuan itu tidak menghormati konteks event ramadhan. Lho, tidak konsisten dong ?. Di sinilah konteks bermain. Ritual ibadah agama seyogyanya tidak menyusahkan orang lain. Maka ketika ramadhan, umat non-muslim yang biasanya makan di tempat 'biasa' menjadi ikut-ikutan 'menahan' atau sembunyi-sembunyi. Pedagang kecil penjaja makanan kehilangan pendapatan jika harus ditutup. Kalau itu MENYUSAHKAN mereka, maka silakan mereka menjalankan aktivitas untuk memenuhi KEBUTUHANnya seperti sedia kala. 'Kan yang dilatih tangguh dan saleh adalah yang berpuasa. Dalam prakteknya, saya yakin kedua pihak SALING menghormati, karena kedua pihak considerate (peduli terhadap kepentingan pihak lain). Bahasa NLP-nya 'ecological check' alias cek ekologis, yaitu apakah perilaku dan outcome kita selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan sekitar kita ?.

Soal pakaian yang dikenakan perempuan tadi bagaimana ?.  Kalau dia considerate  dan ekologis, lalu tidak mengenakan pakaian seperti itu dan mengenakan pakaian lain yang lebih 'tertutup' secara wajar dan menyimbolkan penghormatan kepada suasana ibadah puasa, apakah mampu dia lakukan ? ... Kalau mau dibawa ke soal HAM, apakah atas nama 'hak azasi manusia' boleh melakukan apa saja tanpa memperhatikan kepentingan orang lain?... Seandainya saja bisikan lembut saya sampai ke hati mereka : "Mbak, saya senang mbak berpakaian lebih tertutup untuk menghormati orang yang berpuasa, bukan untuk  yang berpuasa, tapi lebih agar mbak juga dihormati, demi kemuliaan mbak, demi kemuliaan perempuan sendiri dan kemuliaan bangsa kita...***

2011-08-13 07:35:00
Prasetya M. Brata
komentar
03 Aug

Dari Visi Jadi Aksi

Anda mungkin pernah melakukan apa yang disebut dengan ‘resolusi’. Tentu Ini bukan sejenis resolusi Dewan Keamanan PBB soal isu dunia. Ini soal trend – kalau tidak mau disebut ‘latah’ – dimana setiap menjelang akhir tahun berbagai media menyinggung-nyinggung hal-hal yang ingin anda raih atau lakukan pada tahun depan. Impian atau rencana inilah yang anda sebut sebagai resolusi.

Dari daftar hal-hal yang menjadi resolusi anda, berapa persen yang berhasil dilaksanakan dan berhasil ?. Lebih banyak yang dilaksanakan, atau yang tidak dilaksanakan ?. Jika lebih banyak yang dilaksanakan, saya ingin sekali belajar bagaimana hal itu dapat terjadi. Jika lebih banyak yang tidak dilaksanakan, apakah hal-hal yang tidak terlaksana tadi anda ‘tabung’ lagi untuk resolusi tahun berikutnya, atau anda buang dari daftar resolusi ?. Atau anda sudah tidak lagi membuat resolusi karena anda telah berhasil membuat resolusi anda gagal ?.

Anda tentu sudah mafhum atas rahasia umum bahwa  segelintir ataupun seabrek rencana pribadi, hanya sekian persen yang terimplementasi. Kalaupun sudah terimplementasi, tidak memberi hasil yang diharapkan. Kalau sudah begini, biasanya ritual resolusi pribadi menjadi alat perbincangan untuk meramaikan suasana pertemuan-pertemuan sosial saja.

Apakah ‘kegagalan’ anda mengeksekusi rencana pribadi anda disebabkan oleh beberapa hal seperti : membuat rencana hanya ikut-ikutan ? anda belum dapat menguasai dan memimpin diri anda sendiri termasuk emosi dan kebiasaan hidup anda ? Anda belum mampu membedakan mana kebutuhan mana keinginan ? Rencana anda merupakan pemenuhan terhadap keinginan, tetapi keinginan itu bukan merupakan kebutuhan ? Tujuan dan rencana tidak jelas di dalam pikiran anda ? Punya tujuan tapi belum dibuat rencananya dengan rinci step by step untuk mewujudkannya ? Anda masih dikuasai dan diborgol oleh kebiasaan-kebiasaan berpikir dan bertindak yang tidak mengarah kepada pencapaian tujuan anda ? misalnya masih suka ‘malas-malasan’, tidak mau susah, mau hasil instan ? Anda  belum mampu merasakan dalam pikiran anda konsekuensi dari keberhasilan atau kegagalan rencana anda ?

Kalau anda ingin tahu bagaimana caranya agar hal-hal yang ingin anda capai dapat terlaksana dengan baik, maka silakan anda membayangkan saya sedang duduk di samping anda. Saya adalah sahabat anda yang antusias dengan rencana anda, dan dengan penasaran ingin tahu isi pikiran anda mengenai cita-cita dan rencana anda. Bayangkan saya mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini kepada anda secara berurutan, dan anda menjawabnya dengan detail dan penuh semangat.

-       Saya ingin tahu, dari hal-hal yang masuk ke dalam daftar resolusi tersebut, mengapa hal-hal itu yang anda tulis ?.  
-       Bahkan yang lebih penting lagi, saya ingin tahu mengapa anda membuat resolusi ?
-       Bagaimana gambaran hal-hal yang menjadi resolusi anda itu di dalam pikiran anda ?
-       Apakah demikian penting bagi anda ?
-       Seberapa penting ?.
-       Kalau tidak anda masukkan ke dalam daftar resolusi anda, so what gitu loh ?.
-       Apakah anda  yakin hal itu penting ?.
-       Seberapa yakin hal itu penting ?.
-       Kalau ada skala satu sampai sepuluh, keyakinan anda di angka berapa ?
-       Apa artinya angka itu ?
-       Apakah tingkat keyakinan itu cukup untuk membuat anda melaksanakan rencana anda dan mewujudkan tujuan anda ?
-       Dari mana anda belajar keyakinan bahwa hal-hal yang anda masukkan ke dalam daftar resolusi itu demikian penting ?.
-       Seberapa besar keyakinan anda terhadap keyakinan anda tadi ?
-       Lantas, apa arti dari masing-masing hal yang anda resolusikan itu bagi anda ?.
-       Apa tujuan anda memasukkan hal-hal tadi ke dalam daftar resolusi anda ?.
-       Apa arti dari tujuan anda tersebut bagi diri anda ?
-       Apakah tujuan anda dan hal-hal yang akan anda laksanakan di dalam daftar resolusi itu mencerminkan misi hidup anda ?
-       Lantas mencerminkan identitas yang anda bangun ?.
-       Apakah hal-hal yang akan anda laksanakan tersebut bermanfaat bagi anda ?
-       Bermanfaat bagi orang lain ?
-       Apakah merugikan mereka ?
-       Apa yang tidak terjadi pada diri anda jika tercapai ?,
-       dan apa yang tidak terjadi pada diri anda jika tidak tercapai ?
-       Apakah hal-hal yang akan anda capai ini menarik bagi anda ?
-       Mengapa hal ini menarik ?
-       Kapan tujuan-tujuan anda itu tercapai ?
-       Dimana masing-masing hal yang ingin anda capai itu terwujud ?
-       Bersama siapa anda mencapainya ?
-       Apa yang perlu atau harus anda lakukan untuk mencapai goal anda ini ?
-       Bagaimana langkah-langkahnya secara berurutan ?Apa langkah pertama ?
-       Bagaimana langkah-langkah itu persisnya anda lakukan ?
-       Jika belum tahu, bagaimana cara anda mencari tahu ?
-       Jika belum tahu, siapa orang yang akan anda hubungi agar anda tahu ?
-       Kapan setiap langkah-langkah itu akan dilakukan ?
-       Apakah anda mempunyai resources (sumber daya) internal untuk mencapai tujuan anda tersebut ? Apa saja ?
-       Apa saja resources eksternal yang anda akan gunakan untuk mencapai tujuan anda ?
-       Apakah anda mampu melakukannya ?
-       Jika belum atau ragu-ragu, apa yang akan anda lakukan agar anda mampu melakukannya ?
-       Apa yang terjadi pada diri anda kalau tujuan anda tercapai ?. Apa yang terlihat ? terdengar ? seperti apa rasanya ? Tunjukkan kepada saya seperti apa rasanya, saya ingin tahu seolah-olah tujuan itu tercapai dan sedang anda alami saat ini.
-       Apa yang terjadi pada diri anda kalau tidak tercapai ?.  Apa yang terlihat ? terdengar ? seperti apa rasanya ? Tunjukkan kepada saya seperti apa rasanya, saya ingin tahu seolah-olah tujuan itu tidak tercapai dan sedang anda alami saat ini.
-       Setelah tujuan dan rencana itu terjalani dan terwujud, dan bayangkan terjadi seolah-olah saat ini juga, maka siapakah anda saat ini ?
-       Anda menamakan diri anda sebagai apa saat ini ?
-       Kalau ada simbol atau metafora, anda akan mengibaratkan diri anda siapa atau apa ?
-       Mengapa ?
-       Apa wujud syukur anda saat tujuan dan rencana anda terwujud ?
-       Apa wujud penyesalan anda jika tujuan dan rencana anda tidak terwujud ?
-       Setelah tujuan dan rencana ini terwujud, dapatkah anda melihat diri anda di masa depan ? Seperti apa diri anda ?
-       Itu semua yang anda mau ?
-       Anda siap dengan harga yang perlu anda bayar untuk mencapainya ?
-       Anda menerima segala rasa yang muncul dalam proses dan perjalanan anda mencapainya ?
-       Anda siap menerima kebahagiaan dari tujuan dan rencana anda ini ?
-       Seperti apa rasanya ? Tunjukkan kepada saya rasa bahagia itu.

Saat anda sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan saya tadi, sekarang apakah anda merasa ada bedanya dengan apa yang telah anda lakukan di tahun-tahun sebelumnya ? ***

2011-08-03 04:29:00
Prasetya M. Brata
komentar
01 Aug

Lempar Batu Ngantongin Tangan

Sebuah sedan merambat mengikuti aliran lalulintas yang berjalan perlahan.  Jarak antara antrian mobil dengan trotoar tepi jalan memang sempit. Tiba-tiba … “ctakkk!” … “brakkkkk!” …  sebuah sepeda motor telah tergeletak disamping depan si mobil. Penumpang sepeda motor kemudian berdiri namun tidak segera mengangkat motornya, melainkan melangkah ke sisi kanan mobil dan menggedor-gedor kaca pengemudi.

Tidak terima dengan cara pengemudi motor menggedor kaca mobilnya, pria pengemudi mobil membuka kaca jendelanya dan berkata dengan keras, “Sudah tahu jalan sempit kenapa maksa lewat juga ?? .. “. Terjadilah adu mulut. Sepeda motor lain yang melintas menunjuk-nunjuk si pengemudi mobil tanda ikut menyalahkan si sedan. Semangatnya solidaritas antar bikers.

Untungnya polisi yang melintas segera melerai, dan akhirnya si biker melanjutkan perjalanannya dengan bersungut-sungut. Pengemudi sedan memeriksa spion kiri dan pintu kiri baret. Dia menggeleng-gelengkan kepala. Si motor memaksa menyelip di antara trotoar dengan mobilnya. Sudah si pengemudi motor salah, malah menyalahkan korbannya. Rupanya si pengemudi sedan tidak tahu bahwa strategi ‘pre-emptive defense’ inilah yang kerap dipakai pengemudi motor yang merasa bersalah untuk membungkam dan ‘ambil posisi’ dulu terhadap mobil yang disenggolnya.

Itulah yang mendasari mengapa saya pernah memberikan pengarahan kepada pengemudi baru saya enam tahun yang lalu, jika mobil kita disenggol oleh motor, sebelum pengemudinya bangun, gertak duluan.  Saya bilang, kalau kita lihat ada motor di belakang saat jalanan macet, maka pilihan kita adalah memberi ruang bagi mereka untuk lewat, atau jangan beri kesempatan dengan memberi ruang yang tidak memungkinkan mereka lewat. Jangan posisikan mobil kita nanggung, sehingga mengundang motor untuk coba-coba masuk.

Pengemudi saya langsung paham karena ia mantan preman. Saat itu tanpa sadar sikap kamipun menjadi korban permainan ‘hukum rimba’ di jalan raya di Jakarta.

---

Seorang pengemudi motor disetop oleh seorang polisi pria yang tiba-tiba keluar dari rerimbunan pohon. Ini bukan cerita iklan rokok dimana si petugas menyamar sebagai pohon. Si pengemudi motor tidak berhenti saat lampu telah merah. Ia tetap saja membelok. Di tiang lampu lalin ada tulisan “belok kiri ikuti lampu”.

Dengan wajah perang, si pengemudi motor mengeluarkan dompet sambil ngomel. Ia protes, kenapa pak polisi bukannya berdiri di lampu merah untuk mengatur dan mengarahkan pengguna jalan, tapi malah ngumpet menunggu mangsa yang ‘sial’.

Saya jadi membuat dialog drama di dalam pikiran saya. Pertama, terlepas dari kelakuan polisi yang ngumpet, bukankah si pengemudi motor jelas-jelas melakukan pelanggaran lalu lintas ?. Rambunya jelas. Bahwa akhirnya si pengemudi motor itu tidak berhenti dan tetap membelok itu adalah keputusan dia. Kalau dia tidak membaca rambu yang jelas itu, itu juga sudah salah.

Kedua, berharap polisi selalu setiap saat berada di persimpangan jalan untuk mengarahkan pengemudi, itu juga kebangetan sebagai sebuah tatanan sosial. Gejala-gejala ini mirip anak kecil yang manja selalu dibimbing orang lain. Pengusaha yang selalu minta proteksi tanpa mau berupaya memperbaiki kapabilitasnya agar mandiri dan mampu bersaing dengan asing. Kaum yang sedang berpuasa yang minta agar warung-warung tutup di siang hari karena takut tergoda puasanya. Kelompok buruh yang selalu menuntut naik gaji tanpa meningkatkan keterampilan menggunakan uangnya dengan bijak.

Ketiga, tuduhan bahwa pak polisi menunggu mangsa yang sial, itu seperti politik cuci tangan. Ia menamai dirinya sial. Siapa yang memanggil kesialan ?. Polisi ?. Siapa yang tidak membaca atau tidak mengindahkan rambu belok kiri ikuti lampu ?. Siapa yang memutuskan untuk terus membelokkan kendaraannya ?. Saya pernah menyaksikan infotainment di televisi ketika seorang artis berkomentar atas beredarnya video ‘porno’ dirinya dengan seorang anggota dewan, si artis itu berkata, “Kami sekeluarga sedang mendapat musibah. Kami sedang didzalimi …”. Pertanyaannya siapa yang mendatangkan musibah ? Siapa yang mendzalimi ?.

Mungkin anda mempertanyakan bagaimana dengan Pak Polisi yang memang memanfaatkan kelengahan orang untuk mengeruk keuntungan pribadi ?. Apakah itu bukan cermin mental polisi kita ?.  Saya baru mampu menjawab dengan pertanyaan, apakah maksud pertanyaan anda itu untuk membela atau mengurangi kadar kesalahan si pengemudi motor ? Jika tidak, maka mampukah kita menekan dan meminta polisi kita ‘bener’ tanpa kita sebagai masyarakat ‘bener’ dulu lantas bersatu-padu untuk ‘mendidik’ polisi ?.  Mengapa saat di Canberra dan Sydney sekitar 1.5 bulan, saya hanya tiga kali menemui sepasang polisi sedang bertugas? Di Singapore selama dua hari saya tidak menemukan satu orangpun polisi?

Bagaimana jika polisi kita tetap tidak ‘bener’ ?.
Apakah itu menjadi pembenaran untuk perilaku kita juga ‘tidak bener’ ?.
Memangnya kita ini bukan manusia  yang mampu bener dengan cara manusia dan bukan dengan cara binatang?
Masih mau pakai ‘tapi…’ ? ***

2011-08-01 21:49:00
Prasetya M. Brata
komentar
31 Jul

(New) Hormatilah Orang Yang Tidak Berpuasa (3)

Tulisan saya berjudul “Hormatilah Orang Yang Tidak Berpuasa” telah membawa pro dan kontra dalam forum-forum diskusi online. Seorang teman mengabarkan bahwa di kaskus temannya sampai dihujat habis karena telah membawa tulisan ini ke forum diskusinya. Katanya, si penulis – tentu saja saya – telah melakukan menyulut propaganda perpecahan umat. Dalam konteks ini saya merasa benar-benar menjadi provokator yang bakal dicari-cari aparat.

Untung saja setelah saya telusuri satu persatu log diskusi, secara kuantitas jumlah yang mendukung tulisan saya lebih besar daripada yang menghujat. Sebagian kecil mencoba melihat tulisan saya secara netral dengan menganjurkan pembaca memasukkan unsur konteks, sehingga lebih mudah diterima.
Bukan hanya itu, dalam hitungan hari, di inbox facebook saya datang pesan dari seseorang yang saya belum kenal. Di profil facebook-nya, ia berprofesi sebagai mahasiswi sebuah perguruan tinggi swasta. Ia termasuk yang kontra dengan tulisan saya, dan meskipun bahasanya disopan-sopankan, tapi sangat jelas pesannya agar saya  bertobat dan memperdalam pelajaran agama saya. Tentu saja ini nasihat yang saya benarkan .

Sampai dengan menjelang bulan ramadhan ini, ketika saya menulis di grup BBM dengan kalimat “Kepada yang berpuasa, marilah kita menghormati orang yang tidak berpuasa”, masih ada yang berkata, “Bukan sebaliknya ya Pak ?”. Biasanya dengan mudah argument saya diterima oleh teman-teman segrup BBM.  Kata saya, tujuan berpuasa adalah agar orang yang berpuasa menjadi pribadi yang tangguh dan saleh. Salah satu kesalehan adalah mampu menghormati orang lain. Kalau yang berpuasa minta dihormati oleh orang yang tidak berpuasa, itu ibarat sedang berlatih beban di gym ingin ototnya menjadi besar dan kuat tapi minta barbel yang ringan-ringan saja. Kalau yang berpuasa minta dihormati oleh orang yang tidak berpuasa, itu yang saleh adalah yang menghormati.

“Saling menghormati”, tulis Dewi salah seorang teman di Grup BBM teman se-SMA.
“Nggak perlu minta dihormati, yang penting menghormati duluan. Lebih dari itu, kita perlu menjadikan diri layak dihormati. Kalau orang tidak menghormati kita jangan-jangan karena kita memang layak untuk tidak dihormati”, balas saya.

Dewi : “Mereka udah hormat soalnya. Makanya saling menghormati ‘kan ? Dari kitanya juga”.

Saya : “Apalagi kalau mereka SUDAH hormat ke kita, jadi tidak perlu diingatkan ‘saling’ lagi ‘kan ?. Kita yang belum hormat-lah yang mengingatkan diri sendiri, hehehe”

Dewi : “Memangnya ’saling’ itu harus dari pihak sana ? Bukankah dari pihak kita juga boleh pakai kata ‘saling’ ?. Maksud ‘saling’ di sini justru mengingatkan diri sendiri, karena mereka ‘sudah’ melakukan .. Kita belum … Nggak cocok ya ?”

Saya : “Lebih kuat mana pengaruhnya kepada action ? Pakai ‘saling’ atau tidak ?( Karena mereka sudah melakukannya). Rasa-rasain saja pakai kata ‘saling’ dengan tanpa ‘saling’ …”

Dewi : “Sebentar …”.

Dewi : “Hehehe, iya … pakai kata saling action-nya kurang terasa …” ***

2011-07-31 19:37:00
Prasetya M. Brata
komentar
31 Jul

Tuhan Merencanakan Manusia Menentukan

Masih ingat ‘kan cerita pematung di buku PROVOKASI Menyiasati Pikiran Meraih Keberuntungan ? Yang juga pernah menjadi kapsul Smart FM ?. Seorang pematung diminta oleh raja membuat patung raja, permaisuri, anak-anak, tokoh-tokoh dalam kerajaan, termasuk akhirnya patung si pematung sendiri. Sementara patung-patung lain ia buat dengan sangat sempurna, si pematung membuat patung dirinya sendiri dengan kualitas lebih rendah, karena menyangka patungnya akan ditaruh di luar. Ia pikir kalau bikin patung KW1 percuma, karena toh di luar istana akan kehujanan, kepanasan, berdebu, berlumut, dan akhirnya lekas rusak. Yang terjadi  yang tadinya Raja ingin meletakkan patung si pematung itu di dalam istana, malah benar-benar meletakkan patung itu di luar istana, karena jika di taruh di dalam istana kualitasnya kurang bagus dan tidak sepadan berjejer dengan patung kualitas wahid lainnya.

Nasib patung itu di taruh di luar telah ditentukan sendiri oleh si pematung sejak awal dalam pikirannya melalui kata-kata (self talk). Nasib ditentukan oleh kata-kata kita. Kalau diurut-urut, kata-kata dalam menafsirkan dan memberi arti terhadap apa yang dilihat, didengar, dicium, dikecap, diraba, (yang disebut thought atau pikiran) itu terhubung dengan system pusat syaraf menghasilkan state atau perasaan tertentu. Dengan pikiran dan perasaan lalu seseorang memutuskan. Keputusan menghasilkan tindakan, dan tindakan menghasilkan outcome, nasib, keadaan, kehidupan dirinya.

Al Baqarah ayat terakhir menyatakan, seseorang mendapatkan apa yang diusahakannya. Dengan begitu, nasib dan kehidupan kita saat ini ditentukan oleh tindakan kita. Tindakan kita berasal dari keputusan kita. Keputusan kita berasal dari pikiran dan perasaan kita. Pikiran dan perasaan kita berasal dari kata-kata yang memiliki arti tertentu. Jadi kalau di bypass, nasib kita saat ini ditentukan oleh kata-kata kita di masa lalu. Itu berarti nasib kita di masa yang akan datang, ditentukan oleh kata-kata kita hari ini, saat ini. Tidak ada hubungannya dengan masa lalu, kecuali kalau kita memang mengizinkan untuk membiarkan, bahkan seringkali malah menggunakan kata-kata kita di masa lalu untuk membentuk masa depan kita.

Kalau nasib itu ditentukan oleh kata-kata kita sendiri, lantas dimana peran Tuhan dalam pembentukan nasib kita ?.

Sebentar. Banyak orang yang bingung dan tidak dapat membedakan antara nasib dan takdir. Banyak orang sepakat, takdir adalah hal-hal yang tidak dapat diubah oleh manusia, dan nasib adalah hal-hal yang dapat diubah. Saya dan Mas Prie GS itu orang Jawa, Pak Fachry CEO Smart FM keturunan Arab, Pak Tommy Siawira dan Pak FX Haditjokrosusilo keturunan Cina, itu adalah takdir. Tidak dapat diubah lagi. Kalau makan pasti kenyang itu takdir. Tapi mau makan sate atau tempe, itu nasib, karena manusia dapat memilih dan memutuskan mau makan apa. Kalau anda lahir dalam keadaan miskin itu takdir, karena anda lahir dari orang tua yang saat itu dalam keadaan miskin. Anda tidak dapat memilih lahir dari taipan kaya di negeri ini. Tapi kalau anda mati dalam keadaan miskin, itu adalah nasib, karena anda telah membiarkan hidup anda miskin terus sampai mati, padahal anda sudah diberikan sumber daya internal dan eksternal sedemikian rupa oleh Tuhan yang dapat membuat anda kaya.

Bahkan yang lebih kontroversial, umur-pun dapat diubah. Bahwa manusia itu pasti mati itu takdir, tapi mati di usia berapa itu konon adalah sejenis takdir yang berperilaku seperti nasib . Jika di sebuah daerah yang tingkat mortalitanya tinggi, lalu dilakukan program sanitasi, penyehatan ibu dan anak, kampanye safety driving dan safety riding, pemberantasan jentik nyamuk, dan berbagai program perbaikan kesehatan dan keselamatan lainnya, mengapa kok setelah itu tingkat mortalitanya menurun ?. Bukankah hal itu menunjukkan adanya intervensi manusia dalam peristiwa yang disebut kematian ?.

Secara wacana agama, guru saya yang ahli tasawuf dari UIN Syarif Hidayatullah mengatakan, kontrak usia itu dapat diperpanjang dengan tiga cara : hidup sehat, banyak amal baik, dan silaturahmi. Misalnya soal silaturahmi. Seandainya anda tidak punya uang sama sekali untuk makan, lalu anda ketemu tetangga anda, apabila silaturahmi anda bagus, ia pasti memberi anda makan, sehingga hidup anda dapat diperpanjang. Bayangkan apa yang terjadi jika silaturahmi anda sangat buruk dengan tetangga-tetangga anda. Bisa-bisa mereka baru tahu anda wafat setelah mencium bau busuk dari rumah anda.

Bagaimana dengan memperpendek umur ?. Gampang, tiduran saja di rel kereta api yang masih aktif. Besok saya akan cari beritanya di koran.

Kembali ke soal pembentukan nasib. Jika nasib itu berasal dari kata-kata dan tindakan manusia sendiri, apakah itu berarti peran Tuhan tidak ada ?. Bukankah atom bergerak dan dedaunan jatuh itu tidak akan terjadi tanpa seizin Tuhan ?. Simak kalimat yang sangat klasik ini. Kata Allah “Aku tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaannya sendiri”. See ? Bahkan dalam pembentukan keadaan alias nasib saja Tuhan telah mendelegasikan kepada manusia. Tuhan akan mengubah keadaan atau nasib, tetapi ada sebabnya, yaitu tindakan si manusia sendiri. Selalu ada sebab, dari akibat Tuhan mengubah keadaan kita. Sebab itu kita sendiri yang memutuskan dan melakukannya.

Dengan demikian, dalam konteks tertentu jangan-jangan bunyi kata-kata mutiara bukan  “manusia berusaha, Tuhan menentukan”, tetapi “Tuhan merencanakan, manusia menentukan”.  Wah, apa ini tidak terpeleset menjadikan manusia lebih tinggi dari Tuhan ?.

Tuhan telah membuat sistem. “Aku tinggikan langit, dan Aku letakkan mizan”, begitu bunyi surat Ar-Rahman ayat 7.  Tuhan mengizinkan segala hasil itu muncul dari sistem itu. Inputnya adalah niat dan tindakan manusia. Tuhan sudah menetapkan bahwa manusia diminta bersedekah. Jika ingin hartanya bersih dan aman, sedekahkan 2.5 persen. Jika hartanya ingin bertumbuh, silakan sedekah lebih besar, misalnya 10%. Jika hartanya ingin bertumbuh lebih cepat, silakan sedekah lebih besar lagi, misalnya 20%. Nah, Tuhan sudah merencanakan tingkat pengembalian tertentu untuk anda jika mengambil skema sedekah tertentu. Sekarang anda sendirilah yang menentukan, mau ambil skema 2.5 persen, 10 persen, 20 persen, atau bahkan 0 persen. Itu sepenuhnya pilihan dan keputusan anda.

Sehingga kalau harta anda itu tiba-tiba lenyap, ya tanggungjawab,  jangan salahkan Tuhan dan melakukan politik cuci tangan dengan mengatakan, “Tuhan sedang memberi ujian dan cobaan kepada saya”, seolah-olah hilangnya harta anda itu adalah karya Tuhan, bukan karya dirinya sendiri.***

2011-07-31 19:32:00
Prasetya M. Brata
komentar