30 Jul

Kecil Berbalas Besar

Tiba-tiba saja saya mendapat SMS dari Bank Mandiri yang mengabari adanya uang masuk ke rekening saya. Tidak ada satu menit, datang lagi SMS dari seorang yang saya kenal, sebut saja namanya Dewi.

"Pak Prass, saya baru aja transfer cicilan hutang yg ke-4. Tolong dicek ya... Makasih banyak ...".

Dewi adalah orang yang pertamakali meng-organize saya untuk mengadakan public training. Awal saya berkenalan dengan Dewi adalah ketika saya 'menyusul' isteri saya join di sebuah klub kebugaran untuk menyehatkan badan saya, sekaligus memundurkan kemajuan perut saya. Saat itu terjadi insiden dimana personal trainer saya -- Pingkan -- hampir dikeluarkan oleh pihak manajemen fitness center. Karena alasan PHK tersebut tidak masuk akal, maka seluruh klien Pingkan di fitness center itu bersatu padu untuk melakukan advokasi. Dewi adalah inisiator awal perjuangan tersebut.

Setelah berhasil mempertahankan Pingkan di fitness center tersebut, para klien Pingkan menjadi akrab. Ketika tahu kebisaan saya di bidang pemberdayaan diri, Dewi lantas tertarik untuk 'menjual' saya. Kebetulan saat itu perusahaan tempat dia bekerja membutuhkan diversifikasi jasa untuk menambah pundi-pundi perusahaannya.

"Tarif Pak Prass kalo ngajar sehari berapa ?", tanya Dewi di tempat duduk istirahat fitness center. Saat itu tarif saya masih belasan juta sehari.

"Kalau begitu, Pak Prass saya bayar segitu, dan saya privat sehari dengan Pak Prass, " Katanya mantap.

Saya kaget bukan kepalang. Edan ini orang, begitu pikir saya. Ibarat dia mengundang grup musik untuk dinikmati sendiri. Ketika saya tanya mengapa maunya begitu, Dewi menjawab, "Saya perlu tahu dan menguasai ilmu ini dulu sebelum saya menjual Pak Prass".

Pikiran mendidik saya muncul. Sebenarnya ia bisa saja mengunduh ilmu saya dengan hanya membayar 1-2 juta rupiah jika ikut kelas publik saya. Untuk  Saya biarkan saja Dewi membayar saya dengan tarif in-house training, lalu saya akan memberi bonus sehari lagi plus dua kali follow-up session, dan akhirnya akan saya berikan coaching session. Pembayaranpun beres, tapi saya yang wanprestasi untuk melakukan follow-up session.

Namun karena Dewi merasa apa yang didapat dari saya sangat membantunya, ia melanjutkan rencananya untuk menjual saya secara publik. Tekadnya begitu kuat. Ia merencanakan sebuah public training bagi saya. Di sinilah asal muasal hutang itu muncul. Target peserta tidak tercapai. Saat itu Dewi hanya mampu membayar saya sepersekian.

Sebenarnya saat itu saya sudah menerima dibayar sepersekian itu tanpa mau menagih sisanya, karena begitu kagum dengan apa yang dilakukan Dewi, sekaligus mengkompensasi wanprestasi saya untuk follow-up session yang tidak sempat ia nikmati.

Rupanya tidak demikian buat Dewi. Dewi terus mencatat hutang itu, sampai suatu ketika ia telah menjelma menjadi instruktur pilates profesional. Seperti yang pernah saya ceritakan di siaran PROVOKASI Smart FM, hari Senin saya memberi santunan kepada kelompok pendidikan anak-anak kurang mampu, esoknya Mbak Dewi telepon dan menyatakan akan membayar hutangnya. Saya katakan saya sudah tidak mencatatnya sebagai hutang, tapi Dewi tetap memaksa akan mencicilnya setiap bulan. Saya kaget, kagum, dan haru.

Hari itu, saya membalas SMS Dewi, "Mbak Dewi, bagaimana jika saya memberi diskon harga kepada mbak Dewi sehingga saya nyatakan hutang mbak Dewi telah lunas ?".

Agak lama, iapun membalas, "Waduuh, gimana ya ? ... Saya sudah menyatakan punya utangnya XX juta dan udah dicatet ama malaikat. Utang dunia kudu dibayar di dunia. Kalo ga lunas di dunia, ditagih di akherat, repot saya gimana bayarnya :-)"

Saya membalas lagi, "Itu kan kalau krediturnya mencatat dan mengakui kalau ada utang. Lha ini sudah saya hapus utangnya. Gimana, ikhlas kan ?"

Dewi : "Saya mau tanya, kenapa pak Prass mau menghapus utang saya ?"

Saya : "Karena saya mau begitu...".

Dewi : "Waduuuhh jadi gini ya perasaan office boy studio waktu saya bilang utangnya ke saya gak perlu dibayar tapi dia nolak ... now i understand him .. :-)."

SMS lanjutan Dewi : "Ok. Makasih banyak ya atas kebaikan Pak Prass. Semoga Allah membalasnya dengan kemudahan rezeki di masa depan ..."

Saya termenung sebentar, lalu membalas : "Hehehe, terimakasih doanya mbak. Btw, jangan-jangan karena mbak Dewi membebaskan utang office boy, maka Allah menggerakkan hati saya untuk membebaskan utang Mbak Dewi, karena saya juga nggak tau tiba-tiba memutuskan untuk menghapus utang mbak Dewi. No other reason kecuali ingin berbuat baik meringankan hidup orang lain. Hmmm, satu lagi bukti kebesaranNya. Saya kok malah dapat pelajaran dari sini ya ....".

Dewi : "Mungkin kali ya ... Beda nominal utangnya jauuuuh! Beda 10 juta ! Tapi saya gak tau cara Allah bekerja :-)".

Saya bermenung. Selain makin meyakini sistem Allah bekerja, dimana kebaikan akan berbuah kebaikan yang lebih besar, satu lagi keinsyafan yang saya dapat dari peristiwa ini : bahwa sebuah kebaikan bukan cuma dinikmati diri sendiri, tetapi akan berefek domino kepada kebaikan orang lain. Dewi telah membebaskan utang dan meringankan hidup office boy studionya, dan dia sendiri terbebaskan dari utang yang jauh lebih besar. Dengan terbebaskannya dari utang, dia dapat membuat kebaikan lebih banyak kepada orang lain. Saya sendiri meyakini setelah ini Insya Allah rezeki saya semakin besar, sehingga orang-orang sekeliling saya kebagian manfaat dari rezeki tadi. Pamrih ?. Efek sedekah tetap bekerja kok meskipun pamrih, tidak ikhlas, atau riya. Tidak percaya ?. Memang jangan percaya sebelum anda membuktikannya sendiri.

Itulah yang membuat saya dengan yakin meng 'quote tweet' sebuah tweet sahabat saya Arin di twitter. Arin menawarkan siapa yang mau ikutan sarapan berbagi. Lalu ada temannya yang reply, "nanti kalau ada rezeki". Lantas saya nimbrung dan menulis, "Cara ampuh memanggil rezeki adalah sedekah". ***

2011-07-30 20:41:00
Prasetya M. Brata
komentar
29 Jul

Andai ...

Andai saya koruptor di sebuah perusahaan, dan berhasil menjaring uang hasil korupsi 'kecil-kecilan' sebesar 250 miliar rupiah -- sebuah angka yang pada posisi saya sekarang sangatlah besar -- maka apa yang akan saya lakukan dengan uang itu ?... Lagipula, angka ini adalah angka yang paling feasible saya dapat dari perusahaan swasta, bukan dari uang rakyat.

Eits, sebentar, saya kasih tau dulu cara saya korupsi : mark-up anggaran proyek dan menyiapkan bukti-bukti pendukung yang saya rekayasa ; mark-up pengadaan barang ; meminta komisi dari para vendor dan supplier yang memasukkan barang atau mendapatkan pekerjaan dari Perusahaan tempat saya bekerja ; memperlama proses kerja agar diberikan uang pelicin ; membuat berbagai perusahaan sendiri lantas semua procurement dan pekerjaan di perusahaan harus lewat perusahaan saya itu ; minta 'bagian' dari penempatan dana investasi perusahaan ke penyelenggara outlet investasi ; menerima 'upeti' dari orang-orang yang ingin naik pangkat dan jabatan ; minta komisi kepada pihak pembeli atas penjualan aset-aset Perusahaan, seperti tanah, mobil, bangunan ; dan sederet modus operandi lainnya yang konvensional maupun yang supercanggih.

Uang Rp 250 miliar itu saya gunakan untuk :

- Membeli rumah seharga 20 miliar, tanah, dan properti lain untuk disewakan dan menjadi passive income.
- Membeli kendaraan-kendaraan kelas atas sebesar 5 miliar untuk mendongkrak derajat dan martabat saya.
- Memperganteng penampilan saya sehari-hari dengan pakaian bermerek dan mahal, sehingga lebih mentereng dan keren. Mulai bergaul di kalangan 'sosialita' agar makin 'dipandang'.
- Tidak lupa melakukan spiritual money laundring dengan menyumbang sebagaian harta ke mesjid dan panti-panti asuhan.
- Melakukan risk management dengan cara mengalokasikan premi 50 miliar untuk proses hukum dan biaya hidup di lembaga pemasyarakatan untuk mengantisipasi jika suatu saat tertangkap.

Itulah visi saya yang saya sadari terlalu 'sederhana' bagi seorang koruptor bersahaja.

Cukup bahagiakah saya dengan keadaan itu ?. Saya juga tidak yakin, karena jika dengan pendapatan yang hari ini saya terima saja saya merasa belum cukup, maka pada saat pendapatan saya sudah mencapai ratusan miliar itu kemungkinan saya juga belum merasa cukup. Lha wong biaya hidup juga melonjak.

Apa tujuannya saya punya visi kehidupan koruptor seperti itu ?. Supaya saya merasa 'enak' hidup di tengah lantai dan perabot kinclong, disiapkan segala kebutuhan oleh para pembantu saya. Supaya saya merasa 'enak' dianggap, dihormati, di-VIP-kan, dan disanjung-sanjung oleh orang-orang. Supaya saya merasa enak tidak perlu repot-repot kerja yang bikin capek. Supaya saya merasa 'enak' bisa jalan-jalan semaunya, makan enak semaunya. Supaya saya merasa 'enak'. Merasa enak. Selamanya.

Sebentar. Apa iya selamanya ?. Bagaimana kalau seluruh makanan sudah pernah saya cicipi ? Bagaimana kalau seluruh tempat sudah saya kunjungi ? Bagaimana kalau seluruh kendaraan sudah saya tumpangi ?. Apa iya masih terasa enak yang sama ?. Jadi semua itu hanya untuk memenuhi kepuasan jasmani dan emosi semata ?. Bagaimana dengan kepuasan rohani ?.

Saya belum memperhitungkan betapa malunya dan terpukulnya jiwa ibu dan isteri saya begitu saya di penjara. Masyarakat mencibir mereka. Saya belum memperhitungkan jika saya di penjara, tidak dapat menemani ibu saya di saat-saat akhir usianya. Saya belum memperhitungkan efek kepada anak-anak saya nantinya ketika mereka ke sekolah. Kenikmatan buat saya harus dibayar dengan kesengsaraan kepada orang-orang yang saya kasihi. Belum kalau akibat uang haram, darah keluarga saya tercemar, dan akibatnya kena penyakit fisik dan jiwa. Durhaka, narkoba, pergaulan bebas.

Jadi saya cuma ingin enak sendiri, enak jangka pendek, enak sebentar, dan enak jasmani dan emosi. Padahal jasmani dan emosi adalah kendaraan untuk saya hidup. Ibarat kata, saya cari duit cuma buat mengurusi dan mempercantik kendaraan saya, tapi saya lupa kendaraan saya itu mau saya bawa mengantarkan saya kemana ...

Mungkin koruptor sejati yang membaca tulisan ini akan menertawakan saya, karena saya ini cuma menghayal saja. "Sok tau lu !", begitu kata mereka lantas menyindir saya dengan mengatakan, "Jangan percaya dengan apa yang kamu hayalkan sebelum membuktikannya sendiri...".  Saya tidak tahu, apakah itu ajakan kepada saya untuk benar-benar merasakan hidup enak sebagai koruptor, atau sebaliknya ...***

2011-07-29 19:51:00
Prasetya M. Brata
komentar
29 Jul

Kesialanmu hanya untukmu sendiri

Setelah selesai urusan merawat mobil di sebuah bengkel di dekat rumah, saya segera mengajak kendaraan saya itu meluncur di atas aspal menuju ke suatu tempat yang setengah jam sebelumnya bersemayam di pikiran saya. Karena memang sudah waktunya makan siang, tadi saat di ruang tunggu bengkel, sang lambung memberi suatu pesan kepada otak saya yang membuat sang otak  memanggil jenis makanan apa yang sedang ingin diajak berkencan oleh sang selera. Di pikiran saya ada dua makanan yang --- 'pluk'.... --- nongol, yaitu bebek goreng plus kepala ayam di Pasar Bintaro sektor 2, dan soto betawi H. Usman.  Setelah saya melakukan analisis kinestetik tanpa menggunakan metode AHP, muncullah bebek goreng yang memiliki preferensi lebih tinggi.

Namun begitu, karena selama ini saya menyantap bebek goreng itu malam hari, sementara saat itu siang hari, maka saya menurunkan level of confidence menjadi separuhnya. Maksudnya, kalau ternyata warungnya belum buka, saya sudah punya contigency plan dengan opsi kedua, yaitu soto betawi H. Usman.

Benar saja. Opsi pertama gugur, karena realitasnya warung itu memang belum buka. Orang lain menyebutnya masih tutup. Dengan mudah saya segera acceptance dengan kondisi tersebut, lantas menghilangkan semua atribut pikiran yang berhubungan dengan bebek goreng, dan -- 'pluk' -- soto betawi H. Usman-pun segera hadir dalam layar bioskop pikiran saya. Selanjutnya atribut-atribut yang berhubungan dengan soto betawi tersebut muncul. Semangkok soto betawi plus nasi putih, kecap, sambel, dan jeruk limau. Temperatur warung yang sedikit panas dihalau dengan kipas angin yang berputar di langit-langit,  membuat keringat keluar ketika sampai pada suapan ketiga. Semua sudah begitu jelas di pikiran, sampai saya 'lupa' melakukan risk management berupa kemungkinan risiko lain yang menghalangi saya mendapatkan apa yang saya bayangkan tadi.

Seratus meter menjelang warung soto betawi H. Usman, visual dan kinestetik saya semakin kuat. Indikatornya adalah antusiasme saya dalam menekan gas mobil serta menguatnya sensasi rasa tertentu di mulut. Begitu mobil akan dibelokkan ke arah halaman warung, tiba-tiba "Gubrakkk". Itu bukan suara saya jatuh atau mobil saya ditabrak sesuatu. Itu adalah istilah anak muda sekarang kalau mereka kaget tidak menyangka. Sang tukang parkir melambai-lambaikan tangan tanda sotonya habis. "Sial !", kata saya dalam hati.

Tanpa perlu nggrundel panjang, saya segera berputar arah pulang, sambil mencari-cari tempat makan apa yang menarik selera. Tepat di halaman mesjid Al-Istiqomah tempat biasa saya dan beberapa sahabat penggiat pemberdayaan diri berkumpul, saya melihat ada warung kecil dengan tulisan "Gado-gado". Selera saya langsung terbit. Apalagi saya memang sedang butuh makanan yang banyak unsur sayurnya. Inipun sebuah pembenaran karena nyatanya dua mantan kandidat makanan sebelumnya miskin unsur sayuran.

Saya segera menepikan kendaraan, dan dengan penuh percaya diri mendekati warung gado-gado tadi. "Mas, satu ya ...". Mas penjual gado-gado melihat ke arah kaca depan. Sayapun ikut-ikutan melihat ke arah yang dilihat si mas penjual. "Maaf pak, habis". Sayapun melihat di tempat bahan baku gado-gado tinggal sebiji timun. Tidak ada apa-apa lagi.

"Sial !", kata saya dalam hati sambil beranjak ke arah mobil lagi. Tiba-tiba, "PLAKKKKK!!!", ada sebuah tangan imajiner menampar pipi saya .... PLAKK! PLAKK! PLAKKK! ... lagi-lagi pipi saya tertampar. Sesosok ego state saya muncul dan langsung berkacak pinggang di hadapan saya, lantas berkata, "Hei Prass ... apa tadi kamu bilang ? ... Sial ??" ...

Saya menjawab dengan deg-degan, "Iya ...".

"PLAKKKK!" ... sekali lagi pipiku tertampar tangan imajiner.

Dengan suara yang lebih keras, si ego state berkata, "Hei ! ... dasar kamu egois ! ... semestinya kamu mengucapkan "ALHAMDULILLAH", bukan malah "Sial" ...."

"Kok ?... ", tanyaku protes.

"Dasar guoblokkk! ... kalau soto betawi dan gado-gado itu siang-siang sudah habis, itu tandanya kan dagangan mereka laku keras.  Bukankah itu yang menjadi salah satu tujuan mereka berdagang ?. Mereka  itu berarti sedang menerima rezeki jatahnya dari Tuhan. Kalau kamu sedang menyaksikan sebuah peristiwa dimana Tuhan sedang memberikan anugerah kepada hambaNya hari itu, mengapa kamu tidak ikut bersyukur dengan peristiwa ini ?? .... Alih-alih mengagumi peristiwa ini dengan ucapan Allahu Akbar, Subhanallah, dan Alhamdulillah, kamu malah sibuk dengan memperhatikan kepentingan kendaraan hidupmu sendiri yang bernama perut itu, dan malah menamakan peristiwa ini sebagai sial ...!". Tiba-tiba sang ego state menghilang.

"Astaghfirullah ....", ujarku lemas. Sejenak kemudian aku berdoa, "Ya Allah, berikanlah aku keberuntungan yang bukan merupakan kesialan orang lain ...***

2011-07-29 13:23:00
Prasetya M. Brata
komentar
19 Apr

Terpeleset Makna Spiritual

Ketika dua tahun lalu saya terkena bell’s palsy, penyakit kelumpuhan separuh wajah akibat gangguan syaraf ke-7, saya segera menulis makna ‘penghiburan’ yang kemudian menjadi bagian dari buku “Provokasi 2, MANTRA Mengubah Nasib Dengan Kata” terbitan PT Gramedia Pustaka Utama.  Saat itu saya menulis bahwa akibat terkena sakit bell’s palsy, isteri saya mempercepat kepulangannya ke Indonesia, lantas saya mendapat anugerah kunjungan dan perhatian dari teman-teman baru  yang tidak mungkin berkunjung jika saya tidak sakit, dan akhirnya sakit itu adalah doa yang dikabulkan Tuhan dengan cara elegan agar saya dan isteri mempunyai waktu penuh untuk bersama.

Saya melakukan reframing positif dengan menamakan keadaan yg saya alami bukanlah ‘sakit’, namun hanya ‘mengalami kondisi tertentu yang memerlukan treatment khusus’.  Saya juga mengutip penghiburan dari salah seorang teman facebook yang mengatakan bahwa tidak semua orang mendapat kesempatan mengalami bell’s palsy. Saya adalah orang yang dapat bercerita panjang lebar tentang bell’s palsy karena saya pernah mengalaminya.

Saat saya mengalami vertigo kambuh, terkena gastritis, dan sakit-sakit berikutnya, maka saya menganggukkan kepala sambil tersenyum ketika beberapa sahabat mengutip dogma ajaran agama  bahwa sakit itu adalah sebuah anugerah Tuhan untuk mengugurkan dosa-dosa saya. Saya terhibur.

Ketika makna-makna itu saya pasang sebagai bingkai berpikir, maka perasaan sayapun menjadi tenang dan damai. Saya dapat menjalani hari-hari penyembuhan saya dengan lebih antusias. Tuhan yang memberi penyakit, Tuhan pula yang memberi obat.

Sepintas memang makna itu bermanfaat buat diri saya. Tetapi jika saya tidak waspada, saya dapat terjerumus menjadi manusia yang tidak bertanggungjawab.  Kok bisa ? ... Karena saya menganggap penyakit ini diberikan Tuhan sebagai ujian dan cobaan, maka saya lupa bahwa segala sesuatu itu ada penyebabnya. Seringkali sebabnya diciptakan oleh manusia sendiri, tapi karena saya tidak mau disalahkan, maka saya perlu mencari kambinghitam.

Berapa banyak orang yang terkena penyakit jantung atau stroke mengatakan, “Siapa sih yang minta kena penyakit ini ? ... Saya juga tidak mau kena penyakit ini. Penyakit ini adalah bentuk kasih sayang Tuhan yang telah memberi ujian kepada saya agar saya bersabar ...”.  Pertanyaannya, siapakah yang merokok ? siapakah yang makan makanan penuh kolesterol tinggi dan nutrisi tidak seimbang ? Siapakah yang abai terhadap mengistirahatkan tubuh yang cukup ? Siapakah yang kurang olahraga ? Siapa yang tidak update dengan informasi dan pengetahuan kesehatan ? Kok lantas dengan entengnya dia menuduh Tuhan sebagai ‘sebab’ dari keadaan dirinya ?

Soal kekuasaan Tuhan dalam menjadikan segala sesuatu itu tidak perlu diperdebatkan. Tidak terbantahkan. Tetapi kalau kita ingat ayat Tuhan di segala agama yang bermakna universal : “tidak akan Tuhan ubah nasib manusia sebelum manusia itu mengubah apa-apa yang ada dalam dirinya”, maka kita akan tahu bahwa Tuhanpun mengajarkan soal sebab di wilayah kendali manusia yang memberi akibat berubahnya keadaan manusia itu sendiri.

Suatu siang saya sedang berbincang dengan seorang teman tentang keadaan perusahaannya. Katanya, atasannya berkata bahwa selamat tidaknya perusahaannya itu tergantung dari kuasa Tuhan. Sang atasan mencontohkan Briptu Norman. Jika bukan karena kehendak Tuhan, tidak mungkin dalam waktu singkat Briptu Norman terkenal.

Saya lantas menyitir budayawan Prie GS yang mengatakan bahwa kepopuleran Briptu Norman itu disebabkan oleh  adanya niat menghibur temannya yang sedang kesusahan. Saya menambahkan, jika saja Briptu Norman tidak ‘kompeten’ dalam berjoged dan lypsinc, maka kemungkinan penampilannya tidak enak dilihat. Kompetensi Briptu Norman itu merupakan hasil dari minat dan latihan yang ia lakukan bertahun-tahun. Kompetensi dan niat tulus itulah yang menjadi sebab akhirnya Tuhan ‘menjadikan’ perubahan kehidupan Briptu Norman.

Kali ini, di atas ranjang kamar perawatan sebuah rumah sakit akibat infeksi viral yang berwujud gejala tipus, saya memisahkan diri dari diri saya sendiri, kemudian membaca kembali seluruh makna yang pernah saya beri terhadap keadaan saya saat itu. Saya kemudian berkata kepada saya sendiri, “Prass, boleh saja kamu beri arti bahwa setiap sakit kamu ini sebagai kesempatan untuk menyeimbangkan hak tubuhmu dan kesempatan gugurnya dosa-dosamu .... tapi apapun makna yang kamu beri, tetap saja sekarang ini pekerjaanmu terlantar, jadwal-jadwal terkait dengan orang lain terganggu, dan banyak orang yang kepentingannya terhambat karena ketidakhadiranmu ...”.

Makna sakit yang saya gunakan berpotensi melenakan saya. Dengan makna-makna itu sakit menjadi begitu indah. Saking indahnya, saya kalau sakit lagi tinggal pakai saja makna serupa. Beres. Saya lupa, bahwa esensi sakit adalah sebuah kesadaran dan rencana tindakan agar kita tahu bagaimana menjadi sehat dengan bertindak, sehingga tidak sakit lagi. Karena kalau saya sakit, akan ada banyak orang lain yang kesusahan... ***

2011-04-19 06:54:00
Prasetya M. Brata
komentar
12 Mar

Mengubah Nasib Dengan Kata, oleh Rahmadsyah Nurdin

Assalamu’alaikum wr.wb
Shahabat saya yang baik. Semoga sapaan salam saya hadir dalam suasana usaha-usaha terbaik yang sedang Anda lakukan untuk menciptakan nasib baik bagi kehidupan Anda. Mudahan, Anda dan saya selalu terbimbing, supaya terus dan terus mengupayakan diri menjadi pribadi-pribadi yang semakin bertambah baik amalnya.

Mengubah nasib dengan kata. Itulah tema yang akan di bahas oleh Bapak Prasetya M Brata, pembicara siaran Provokasi di Smart FM pada event The 2nd Indonesia NLP Confence, 2 April 2011. Saya tidak begitu tau bagaimana persisnya maksud dari tema tersebut. Bahkan mungkin Anda pun bertanya-tanya di dalam hati, seperti saya juga.

Tulisan ini saya tulis, bukan karena sudah ada bisikan bocoran atau kisi-kisi (seperti ujian di sekolah dulu ya, ada kisi-kisinya) dari beliau. Namun, berdasarkan pengalaman yang saya alami, yang tiba-tiba saja muncul di fikiran saya, saat saya duduk di depan simungil Acer untuk menulis.

Tema ”Mengubah Nasib dengan Kata” pun, menjadi pilihan kupasan ide-ide gila di fikiran saya. Berbicara mengenai nasib, tidaklah lepas dengan freewill. Ada yang mengartikan freewill itu sebagai sesuatu yang masih ada wewenang dalam diri kita untuk menentukan mana yang mau kita pilih.

Ini sangat sesuai kalau di lanjutkan dengan penjelasan yang saya dapatkan saat mengikuti training Ummat Terbaik Hidup Berkah, yang diselenggarakan oleh Dinar Coach. Bapak Syamsul Arifin sebagai trainernya menjelaskan, yang namanya Nasib itu terbagi dua.Pertama, nasib yang sudah di tentukan. Kedua, nasib yang masih bisa kita tentukan.Sebagai contoh, nasib yang sudah ditentukan itu seperti kecelakan pesawat, lahir dari ayah ibu siapa, dan dari suku apa. Sementara yang masih bisa kita tentukan, Contoh : Seperti saya sekarang ini, mau menulis ”Mengubah Nasib dengan kata-kata”. Padahal saya masih punya kesempatan dan pilihan untuk menulis tema lain kan? Dan ini sifatnya bukan paksaan atau keharusan. Berbeda dengan nasib yang petama tadi.

Kembali ke tema, ngomong-ngomong mengenai ”Mengubah Nasib Dengan Kata”. Kalau Anda mau tau lebih detil dan lebih rinci, bisa ikuti The 2nd Indonesian NLP Conference, pada 2 April 2011, ikut kelas Pak Prasetya M.Brata. Sementara saya sekarang akan membahas menurut versi saya.

Sebelumnya saya mau mengetahui, siapa diantara Anda pernah mengalami kondisi seperti di bawah ini:

1. Anda Melakukan presentasi / prospecting ke klien / nasabah Anda, ternyata hasilnya, nasabah merespon tidak sesuai dengan harapan Anda. Dan kejadian ini Anda alami berulang-ulang sampai 7 kali.
2. Anda seorang lelaki sedang melakukan PDKT, dengan seorang gadis pujaan hati. Apabila Anda mendengar, melihat apalagi berdekatan dengannya, memunculkan gejolak nan membara pada bagian tertentu di tubuh Anda. Kemudian Anda menyampaikan isi hati Anda kepadanya. Namun, si wanita merespon tidak sebagaimana Anda harapkan. Anda mencoba berulang kali, tapi hasilnya tetap sama. Demikian pula terjadi dengan usaha Anda kepada wanita lain (yang menjadi pujaan hati Anda setelah di tolak oleh pertama, ceritanya cari lain lagi).
3. Anda seorang wanita, telah didatangi oleh 10 orang lelaki yang menyatakan niat serius untuk menikahi Anda. Namun, ditengah perjalanan proses perkenalan antar keluarga dan persiapan lainnya, selalu saja ada kendala yang menyebabkan, niat baik itu tidak terjadi. Hingga sampai sekarang Anda masih tetap sendiri.
4. Anda seorang yang dulu pekerja (employee) sudah memutuskan pensiun dini. Kemudian mulai membuka usaha sendiri. Jenis usaha pertama anda kerjakan ”Bisnis pulsa”. Sayang, hasilnya tidak sesuai harapan Anda. Kemudian anda coba dengan ”Bisnis EO”, pun hasilnya tidak sesuai harapan Anda. Bahkan mencoba berganti dengan jenis usaha lain, hingga sampai sekarang, belum ada hasil sebagaimana Anda harapkan.


Pertanyaan saya, pada contoh kondisi di atas  ;

1. Apakah Anda akan mengatakan kepada diri anda ”Aku memang tidak cocok jadi Sale/penjual, buktinya sudah beberapa kali aku melakukan penawaran/prospect tidak ada yang beli”.
2. Apakah Anda akan berpendapat tentang diri Anda ”Aku memang tidak layak untuk di cintai, memang aku tidak pantas dengan nya, lebih baik aku menjomblo saja”.
3. Apakah Anda akan memutuskan mengenai diri Anda ”Seperti nya aku memang terlahir untuk sendiri selamanya, karena sudah 10 orang lelaki mencoba membangun hubungan, toh hasilnya nihil”.
4. Apakah Anda akan menganggap diri Anda ”Ternyata aku memang tidak bakat dan cocok jadi pedagang (pengusaha), lebih baik aku melamar bekerja kembali. Sudah 4 kali ganti usaha, hasilnya tetap aku rugi”.


Empat contoh gambaran peristiwa di atas, hanyalah sebagian kecil dari banyaknya peristiwa dalam kehidupan ini, yang amat mengasyikkan untuk kita bahas. Namun, cukuplah itu saja dulu untuk menjelaskan ”Mengubah Nasib dengan Kata”. Entah seperti apa kata-kata yang terbingkai dalam fikiran Anda, seandainya perumpamaan di atas, Anda yang mengalaminya. Apakah akan seperti anggapan di atas tadi? Mudah-mudahan saja tidak.

Pada akhirnya, Mengubah Nasib dengan kata adalah keahlian, kesadaran, kejelian, dalammemutuskan memilih dan menyusun kata-kata untuk memaknai, mengartikan dan menyikapi suatu peristiwa dan kejadian yang Anda alami. Sekali lagi, Nasib Anda dan saya, sangatlah tergantung dari keputusan kata-kata yang Kita pilih, gunakan, ambil untuk membingkai suatu kejadian. Karena, hampir keseluruhan tindakan dan perilaku kita, sangat tergantung pada kata-kata yang tersusun dalam fikiran kita. Baik itu disadari atau tidak. Jadi, dengan mengubah kata, kita telah mengubah nasib kita. Dan mengubah nasih adalah dengan menstruktur kata-kata yang tepat pada konteksnya.

Ciganjur, 10 Maret 2011

2011-03-12 20:20:00
Prasetya M. Brata
komentar