10 Jan

Kabar Buruk benar-benar Buruk ?

"Tingggggg!", blackberry saya berbunyi.

"Hallo Mas Prass ... mau nanya sesuatu nih .. boleh ?", begitu tulisan berita blackberry messenger  dari sahabat di Pekanbaru yang berprofesi sebagai dokter.

"Boleeeehhh...", jawab saya singkat.

"Bagaimana cara yang efektif menyampaikan kabar buruk tanpa menjatuhkan mental orang yang menerima kabar buruk tersebut mas ? Karena kabar kali ini adalah kabar buruk kedua lainnya yang bakal dia terima kenyataannya, yaitu dia tidak lulus untuk memperoleh kursi sebagai calon pegawai negeri sipil ...", tanya dr. Abi, sahabat saya itu.

Kali itu 'mood' saya untuk memprovokasi sedang bagus.

"Yang menamakan hal itu 'kabar buruk' siapa ya ?", tanya saya.

"Secara umum, memang kabar itu 'kabar buruk' karena yang disampaikan nggak ada bagus-bagusnya ..", jawabnya. "Hmmm .. mas Prass mau menggiring saya ke arah 'negative motivation' ya ?", lanjutnya.

"Apa bagusnya tidak lulus CPNS ?", tanya saya.

"Bagusnya .. ? .. ya bisa mencoba peluang lain ...", jawabnya.

"Saya punya teman yang ketinggalan pesawat ... Dia bilang kabar buruk !. Dua jam kemudian pesawat itu jatuh di Berastagi. Semua penumpangnya tewas. Dua jam kemudian 'kabar buruk' itu menjadi 'kabar baik'. Dia sangka musibah, ternyata penyelamatan ... Ini real story ...", ujar saya.

"Iya mas ... saya juga membaca kisah itu di buku PROVOKASI mas Prass ...", jawabnya.

"Mas menyangka tidak lulus CPNS itu kabar buruk. Siapa tahu itu sebenarnya kabar baik ?", pancing saya. "Jangan-jangan misi hidup dia yang sesungguhnya bukan menjadi CPNS ?"

"Jadi sebaiknya bagaimana cara menyampaikannya ?", tanya dia lagi.

Saya sebenarnya ingin 'mengacak-acak' dulu mindset dia terlebih dahulu karena justru teman saya itu yang duluan menamakan berita itu sebagai 'kabar buruk'.

"Tidak ada orang yang suka mendengar kabar buruk. Lha, kalau mas Abi sendiri sudah bilang itu kabar buruk, lantas mau dibungkus apapun, tetap saja yang sampai adalah 'kabar buruk' dan tidak disukai ..", jawab saya. "Yang membikin buruk itu 'kan arti yang diberikan sendiri oleh yang mendengar berita itu. Jadi biarkan dia bertanggungjawab atas arti yang dia berikan sendiri kepada sebuah berita dan peristiwa,  juga bertanggungjawab atas perasaan-perasaan yang muncul akibat arti yang ia berikan sendiri tersebut .."

"Lantas yang 'ideal' dilakukan saat sekarang apa dong mas ?", kejar dia.

"Tanyakan saja dulu, seandainya dia nggak lulus CPNS, bagaimana sikap dia ... Dari situ 'kan mas Abi akan paham apa arti yang ia berikan kepada berita itu  ... Barulah setelah itu mas Abi bisa tahu cara menyampaikan yang lebih netral dan membangun dirinya itu yang bagaimana ...", jawab saya.

"Iya juga ... Nggak terpikirkan sama saya ... that's something new for me ...", jawabnya.

"Jadi tadi mas Abi kan bermain dengan pikiran sendiri ? ... hehehe ...", ledek saya.

"Iyaaaa ... mungkin kabar buruk itu saya sendiri yang menciptakannya, karena saya sebenarnya berharap besar dia lulus CPNS. Jadi sebenarnya saya yang menciptakan aura dan suasana seperti itu dan seolah-olah dia juga menanggapi dengan cara yang serupa ...", jawabnya. "Maklum mas, terbawa cara menyampaikan prognosis ke pasien tentang penyakitnya  ...".

"Hehehehe ...", respon saya.

"Mas Prass angkat saja topik "kabar buruk apakah benar-benar buruk?" di siaran PROVOKASI. Pasti seru !. Nanti saya ikut SMS menanyakan yang aneh-aneh biar mas Prass berat mikirnya ..", jawabnya.

"Hehehee ... maksudnya 'berat' buat anda 'kan ?", kilik saya.

"Wkwkwkwk ... i'm playing with my own thought again ....", jawabnya ***

2011-01-10 18:38:00
Prasetya M. Brata
komentar
10 Jan

Makna Ikhlas

Saya menyapa kolega saya, direktur sebuah perusahaan jasa investasi. Sebulan sebelumnya saya baru saja memfasilitasi pelatihan dua hari mengenai personal mastery dan hypnotic selling skill. Saya ingin tahu bagaimana dampak pelatihan yang saya fasilitasi terhadap perubahan perilaku dan kinerja mereka karena saya akan bertemu lagi dengan peserta untuk follow-up class. Jawabannya mengejutkan : sebulan setelah dilakukan pelatihan, sales menurun !.

"Apa yang membuat sales itu turun mbak ?", tanya saya.

"Lha ya itu, mereka sekarang pasrah. Alasannya, 'kan diajarin Pak Prass pakai the law of attraction. Kalau sudah membayangkan dengan jelas apa yang diinginkan dan minta dalam doa, terus yakin, terus ikhlas siap menerima apapun jalannya. Jadi kalau mereka mau prospek terus hujan deres, atau nggak dapat janji, ya sudah terima saja ... ikhlas ..", jelas kolega saya.

"Hahaha .... ! Salah kaprah .... Kalau begitu, kita kumpulkan mereka lebih cepat saja, mbak ..", pinta saya.

Di pelatihan sebelumnya, saya memang menjelaskan sedikit soal the law attraction yang sedang menjadi 'selebriti' dan digandrungi oleh para pencari ilmu kesuksesan hidup saat itu. Karena saya hanya menyinggung sedikit dan 'kulit'nya saja, saya menjadi mafhum mengapa oleh peserta ditangkap, dicerna, dan diartikan sebagaimana yang diceritakan kolega saya itu.

Di hadapan para peserta yang telah dikumpulkan, saya lantas menggali dulu pemahaman mereka soal materi pelatihan yang telah mereka ikuti, khususnya soal the law of attraction yang rumusnya ask-believe-receive.

"Teman-teman, memang banyak yang 'meleset' di pemahaman soal ask-believe-receive.  Minta dalam doa dengan visualisasi yang jelas - yakin Tuhan dan alam merespon untuk mewujudkan keinginan kita itu - lantas siap menerima dengan ikhlas apapun jalannya. Tetapi banyak yang keliru dalam implementasinya. Mereka menyangka hanya dengan visualisasi dan yakin, nanti apa yang diminta akan datang sendiri. Hasil diraih dengan tindakan...", buka saya.

Peserta masih menunggu penjelasan lebih lanjut.

"Jadi, kalau anda sudah punya impian yang jelas dan yakin dapat meraihnya, lalu paham dan sadar untuk mencapai target anda perlu berangkat menemui calon klien untuk prospecting, maka prospecting-lah dengan menerima perasaan apapun saat prospecting. Kalau saat mau prospecting tiba-tiba hujan deras, kemudian anda tidak berangkat, membatalkan janji, dan mengatakan 'ikhlas menerima pembatalan', maka itu bukan ikhlas namanya. Yang namanya ikhlas itu adalah ... anda sadar perlu melakukan kunjungan sebagai syarat untuk terjadi closing, kemudian ketika hujan lebat atau macet anda tetap berangkat menemui calon klien dengan menembus hujan dan macet, dan MENERIMA rasa berat dan susah selama saat menembus hujan dan macet itu dengan ikhlas ! ...".

Saya melihat para peserta 'kesetrum'.

Lain waktu, alam menyediakan keadaan dimana saya diminta untuk mempraktekkan apa yang saya ajarkan sendiri. Di suatu malam larut Ibu saya tiba-tiba bilang, "Aku pengen martabak, Prass". Malam itu hujan lebat. Mobil baru dicuci sore harinya.

Karena ibu saya sudah ahli soal ikhlas, saya bisa saja mengatakan, "Bu, ini 'kan hujan deres, ikhlas aja dulu ya malam ini nggak makan martabak ... ". Tapi manuver 'politik ikhlas' itu akan membuat saya kehilangan kesempatan untuk membahagiakan dan membalas budi ibu saya, dan saya tahu apa yang dapat saya katakan itu hanyalah sebuah 'akal-akalan' alias pembenaran atas kemalasan saya.

Malam itu, saya tembus hujan dan menerima segala 'rasa' yang muncul dalam perjalanan mencari tukang martabak. Tindakan 'ikhlas' saya berbuah manis. Malam itu saya amat bahagia melihat ibu saya melahap martabak impiannya... ***

2011-01-10 05:47:00
Prasetya M. Brata
komentar
22 Dec

Tanggungjawab Siapa ?

Di sebuah pelatihan saya sedang bicara soal tanggungjawab.
 
“Bapak dan Ibu, sekarang kalau saya katakan begini : Bapak dan Ibu ANJING … Bagaimana perasaan Bapak dan Ibu ?”, ujar saya.
 
Saya melihat peserta pelatihan sebagian kentara sekali berubah roman wajah.
 
“Ya marah lah pak ! “
“Tersinggung ..”
“Jengkel !”
 
Begitu beberapa jawaban mereka.
 
“Lantas, perasaan-perasaan itu merupakan tanggungjawab siapa ?”, tanya saya.
 
Mereka terdiam. Saya tahu mereka sedang berpikir untuk menimpakan tanggungjawab perasaan tersebut kepada diri sendiri. Tapi perkiraan saya meleset.
 
“Pak, saya marah Bapak bilang begitu ke saya,” ujar seorang ibu.
 
“Ibu setuju kata-kata saya bahwa ibu adalah anjing ?”, Tanya saya tersenyum.
 
“Ya tidak setuju dong, Pak,” jawab dia.
 
“Lha, kalau tidak setuju, kenapa marah ? Hehehe …”, jawab saya dan disambung gelak tawa peserta lainnya.
 
Dengan spidol di tangan, saya lantas menggambar sebuah bentuk di kertas flipchart.
 
“Bapak dan ibu … saya menggambar apa ?”, Tanya saya.
 
“Kucing !”
“Anjing !”
“Macan !”
“Kucing kurus !”
“Anak macan !”
 
Begitu jawaban-jawaban mereka.
 
“Bapak dan ibu yakin kalau jawaban yang bapak  dan ibu berikan masing-masing itu BENAR ?”, Tanya saya.
 
“Yakin !!! ..”, jawab peserta.
 
Karena saya menggambar hanya satu bentuk, lalu saya jadi bingung nih, realitas yang benarnya gambar ini gambar apa sih ? Kucing, anjing, atau macan ?”, Tanya saya lagi.
 
Peserta masing-masing menyebutkan gambar yang benar adalah jawaban mereka, lengkap dengan argumennya.
 
Setelah cukup bereksperimen dengan mental mereka, saya lantas berkata, “Pak, bu, yang bapak dan ibu sebutkan tadi dan dianggap benar adalah realitas internal bapak-ibu sendiri. Realitas eksternalnya saya ini menggambar garis-garis !”.
 
Mereka diam sambil bingung.
 
“Saya hanya menggambar garis-garis. Itu realitas eksternalnya. Lantas bapak dan ibu memberi ARTI kepada gambar garis-garis itu berdasarkan pengalaman masa lalu Bapak-Ibu bahwa gambar garis-garis itu adalah kucing, anjing, macan, dan seterusnya, “ jelas saya.
 
“Jadi, sebuah gambar, suara, kata, tidak akan ada artinya apa-apa sampai kita sendiri memberi ARTI kepadanya. Nah, kalau begitu, saat saya bilang “ANJING” tadi, sebenarnya saya apa sih ?”, lanjut saya bertanya.
 
“Binatang, Pak !”, jawab seorang bapak.
 
“Bukan ! … it’s just a voice. Itu tadi cuma sebuah suara saja … Lantas bapak dan ibu memberi arti kepada suara tadi sebagai binatang. Pikiran tidak berhenti di situ. Otak bapak-ibu kemudian membuat pikiran tentang pikiran sebelumnya. Bapak ibu lalu memberi arti lagi kepada soal binatang tadi dengan ‘penghinaan’. Bapak dan ibu memberi arti kata-kata saya adalah penghinaan. Saya sedang menghina, makanya Bapak dan Ibu marah, jengkel, tersinggung, “ jelas saya.
 
Sebelum sempat mereka bereaksi, saya melanjutkan, “Nah, ketika saya bilang ‘anjing’, siapa yang memberi arti ?”, Tanya saya.
 
“Saya sendiri …”, jawab mereka.
 
“Lantas kalau dari arti yang diberikan oleh anda sendiri tadi menimbulkan perasaan tertentu, maka perasaan tertentu itu tanggungjawab siapa ?”, Tanya saya.
 
“Saya sendiri ..”, jawab mereka.
 
“Tapi Pak, kalau ternyata orang itu memang mau menghina saya, apa saya harus diam saja ?”, interupsi salah seorang peserta.
 
“Apa tujuan orang itu menghina anda ?”, Tanya saya.
“Agar saya jatuh …”, jawabnya.
 
Saya kemudian menimpali, “Nah, kalau setelah penghinaan itu lantas anda jatuh, pertanyaan saya, siapa yang mengizinkan anda jatuh ?” …***
2010-12-22 13:16:00
Prasetya M. Brata
komentar
03 Sep

Kaya khilaf, atau Miskin khilaf ?

Saya terlibat chatting dengan seorang mahasiswi saya.

 
Saya : "Semalem jadi pergi sama "X" ?
Dia : "Jadi Pak ... kenapa Pak ?"
Saya : "Ooo, nggak apa-apa, hehehehehehe"
Dia : "Ketawanya ngeledekkkk"
Saya : "ya itu kan tergantung tafsir kamu. Kalau kamunya menafsirkan ngeledek, ya sudah, hahaha".
Dia : "Itu ketawanya malah nggak jelas .."
Saya : "Wah, kalau saya sih jelas. Jelas sekali bahwa ketawa saya itu tidak jelas .."
Dia : "Nahhh, kalau ini saya sependapat .."
Saya : "Meskipun tidak sependapatan ..."
Dia : "Iya deeeh nggak sama ..."
 
Saya : "Saya doakan nanti pendapatan kamu tinggi selangit"
Dia : "Amiiin Pak. Tapi kalau bisa jangan tinggi-tinggi Pak. Takut khilaf".
Saya : "Kamu mau penghasilan tinggi tapi khilaf, atau penghasilan rendah tapi sadar, atau penghasilan tinggi yang sadar ?"
Dia : "Penghasilan tinggi yang sadar".
Saya : "Jadi ? ... masih mau minta jangan tinggi-tinggi penghasilannya ?"
Dia : "Iya kalau misalkan saya diberi rizki yang berlebih cuma takut kekhilafan aja pak. Saya kan cuma manusia biasa .."
Saya : "Emang kalau rejekinya sedikit akan terbebas dari khilaf ?"
Dia : "Nggak juga sih Pak. Habis saya lihat contoh real-nya Pak .. para pejabat-pejabat negara itu kan sudah dikasih rejeki cukup dengan posisi enak, eh, masih bisa-bisanya korupsi.."
Saya : "Apakah kalau rejekinya banyak PASTI korupsi, dan apakah kalau rejekinya sedikit PASTI tidak korupsi ?"
 
Dia : "Ya tidak juga pak. Tapi persentasinya seperti itu kan Pak .."
Saya : "Di penjara, rutan, LP, yang lebih banyak yang khilaf itu yang hartanya banyak atau yang hartanya sedikit alias miskin ?"
Dia : "Saya sih belum pernah datang langsung ke rumah tahanan Pak. Memang sih lebih banyak orang miskinnya, tapi kebanyakan dari mereka kan korban ketidakadilan hukum ?"
Saya : "Jadi, yang salah ketidakadilan hukum ?"
Dia : "Banyak orang-orang kaya membeli hukum di Indonesia kan Pak. Koruptor sampai bermiliar-miliar bisa begitu saja bebas dengan uangnya, tapi kalau orang miskin nyolong ayam saja dihukum berat. Apa itu namanya ketidakadilan hukum Pak ?"
 
Saya : "Kenapa orang nyolong ayam itu dihukum ? Karena miskinnya atau karena nyolong ayamnya ?"
Dia : "Karena nyolongnya Pak. Tapi kenapa orang-orang kaya bisa bebas dari hukum padahal mereka korupsi uang rakyat ?"
Saya : "Nyolong itu khilaf bukan ?"
Dia : "Iya pak, termasuk khilaf ..."
Saya : "Jadi kaya atau miskin bukan merupakan SEBAB orang khilaf bukan ?"
Dia : "Benar pak ..."
Saya : "Jadi balik lagi ke soal pendapatan tadi, karena tidak ada hubungan antara kaya-miskin dengan khilaf-sadar, maka Charin mau jadi kaya dan sadar, atau jadi miskin dan sadar ?"
Dia : "Jadi kaya dan sadar pastinya Pak". ***
2010-09-03 11:56:00
Prasetya M. Brata
komentar
04 Jul

Cinta Dia atau Cinta Diri Sendiri ?

"Prass, bisa bantu terapi'in suamiku nggak ?", tanya seorang teman kepada saya.

"Kenapa suamimu ?", tanya saya balik.

"Dia masih punya rasa kemarahan dengan mantan isterinya. Dia pengen ngilangin rasa itu. Dia keganggu dengan perasaannya itu", jawabnya.

Buat teman saya ini, pernikahannya dengan suaminya yang sekarang adalah pernikahan ketiga. Saya sendiri mengikuti perkembangan kehidupan teman saya ini sejak ia akan bercerai dengan suami pertama. Selama 'kosong' ia sering gelisah dengan keadaan hidupnya. Beberapa curhatnya menyangkut kepahitan dan kepedihan menjalankan peran sebagai kepala rumah tangga dan orang tua tunggal. Ia ingin segera menikah lagi sehingga masalah-masalah yang menimpanya sebagian lenyap.

"Ini yang minta terapi kamu atau suamimu ?", tanya saya untuk memastikan kemauan 'sembuh' itu datangnya dari siapa.

"Suamiku Prass ..", jawabnya

"Bener ?", tanya saya lagi.

"Beneeerr. Dia keingetan terus sama mantan-nya. Aku jealous", katanya.

Mendengar kata 'jealous', tiba-tiba saya seperti punya peluang untuk memprovokasi dia.

"Apa alasan kamu untuk jealous ? Apa akibatnya dengan suami kamu kalo kamu jealous ?", tanya saya.
"Nggak tau ... ", katanya sedikit gelagapan.

"Dia sedang bermasalah trus kamu tambahin masalah. Kamu cinta dia apa cinta dirimu sendiri ?", tanya saya.

"Kok .. ?", katanya.

"Kalo kamu cinta dia, apa yang telah kamu lakukan untuk membantu menyelesaikan masalahnya ?", tanya saya lagi.

"I love him so much. Gue pengen dia bahagia .." katanya.

"Proses perceraian suami loe itu kan alot, lama, artinya ada kemungkinan dia mengalami luka emosi cukup dalam. Lantas kamu menuntut dia sembuh dengan segera ?", cecar saya.

"Nggak ... aku nggak menuntut itu ..", katanya. Sebuah kalimat yang tidak kongruen dengan pernyataan sebelumnya tentang jealous.

"Kondisi suamimu memang tanggungjawab dia sendiri. Kalau kamu memang tidak menuntut itu, maka jealous itu tidak perlu ada ..", provoke saya.

"Jealous itu bukannya tanda cinta ?", tanya dia.

"Bukan ! .. itu tanda kamu mencintai dirimu sendiri ... Itulah kalau menyamakan cinta dengan senang, demen, suka, nafsu." kata saya.

Saya langsung melanjutkan.

"Tergantung konteksnya. Kalau kamu jealous karena suamimu 'dekat' dengan wanita lain, itu wajar. Tapi dalam konteks yang kamu alami, kalau kamu jealous karena suamimu masih keinget mantan dalam keadaan marah, apa itu namanya .. ?

"......", teman saya diam.

"Mengapa kamu cinta dia ? .. Apa yang membuat kamu cinta dia ?".

".. karena dia kasih apa yang aku harapkan dari pasangan. Tanggungjawab, sayang ke aku dan anak-anak ..", jawabnya agak mantap.

"Nah tuh kan ... kamu cinta dirimu sendiri ..", sahut saya.

"Kok ... ?", dia heran.

"Kamu cinta dia karena dia bisa memenuhi keinginanmu. Karena itu kamu cinta ... Kalau nanti sudah tidak begitu, kamu tidak cinta lagi .. ?".

Dia diam saja.

"Kalau kamu tadi pas aku tanya 'apa yang bikin kamu cinta dia', lalu kamu jawab misalnya 'aku nggak tau .. pokoknya aku cinta dia ...', kemungkinan besar kamu memang cinta dia. Cinta itu tidak ada 'karena', kecuali karena mendapatkan ridho Allah. Kalau sudah begitu cinta jadi 'walaupun'. Walaupun bagaimana, kamu tetap mencintai dia ...", cecar saya.

"Ahhh ... kamu memprovokasi aku !", jawabnya tersadar.

"Ya memang !. Biar fondasi kamu kuat. Kalau anakmu sakit, kamu bawa ke dokter untuk disuntik, dan biarpun anakmu nangis kejer-kejer, kamu tetap tega demi si anak sehat dan kuat. Begitu juga aku, biar kata kamu bete dengan kata-kata dan omonganku barusan ini, aku tegain biar kamu kuat nantinya. Biar kamu tanggungjawab sama hidup dan perasaanmu sendiri. Jangan sampai kamu kayak pernikahan yang lalu, kamu menikah untuk menghindari tanggungjawab !", cerocos saya.

Ini adalah reka ulang perbincangan di blacberry messenger. Tak lama, di BBM saya muncul icon wajah tersenyum di belakang kalimat "Terimakasih ya Prass". ***

2010-07-04 19:02:00
Prasetya M. Brata
komentar