04 Jul

Dunia Tidak Suka Kekosongan

Seorang sahabat yang saya kenal 'gila' karena di kartu namanya ia mencantumkan gelarnya "Ph.G" yang dia artikan 'Pengusaha Gila', menulis status di facebook : "Giving, Giving, and Giving".

Karena saya dan dia terbiasa saling memprovokasi dan saling meneror, saya lantas tergoda untuk meledek dia dengan komentar "Jangan cuma ngomong doang, buktinya mana ? ... Belum ada yang nambah di rekening gue nih ..".

"Wis, alamatnya mana ...?", balas dia lagi.

Dengan enteng saya tulis, "Warung Jati Barat 41. Rekening BCA Nomor sekian sekian ..".

Sejenak saya melanjutkan tour de facebook ke 'buku muka' teman-teman lainnya.

Tiba-tiba 'tinggggg!' ada bunyi SMS saya di blackberry. Daniel Suwandi sahabat saya tadi mengirim SMS berupa konfirmasi transfer uang sebesar 5 juta rupiah ke rekening saya !.

"Saraaaappppp!!!!!", teriak saya dalam hati.

Saya konfirmasi kembali ke Daniel untuk memastikan SMS itu bukan sandiwara. Ternyata benar !.

Saya masih geleng-geleng tidak percaya. Saya tulis lagi komen di facebook-nya soal keheranan saya atas keberanian dia nekat mengirimi saya uang hanya karena komentar saya.

Dia hanya tertawa dan menulis, 'I always do what i said..'.

Saya mengenal Daniel beberapa tahun lalu saat bertemu di sebuah pelatihan aplikatif berbasis neurosemantics. Saat itu dia termasuk pattern breaker, alias suka bikin heboh suasana dengan pikiran-pikiran dan komentar-komentarnya yang 'nyeleneh'. Meskipun begitu, ia tetap seorang pembelajar dengan metode eksperimen.

Beberapa saat kemudian saya sering kontak-kontakan dengan dia. Pembicaraannya mulai dari rencana dia berbisnis ini itu, tanya buku ini itu, seminar ini itu. Idenya kadang menembus dinding logika saya, tapi saya terus menikmati ide-ide gilanya. Sampai akhirnya ia mulai berhasil dalam bisnis dan jualannya. Di facebook ia memproklamirkan dirinya Sang Terrorist.

"Pak Prass, saya ingin jadi penjahat ..", katanya suatu ketika.

Saya tertawa kecil. Saya tahu dia sedang memprovokasi saya, atau malah sedang minta 'dukungan'.

"Apa maksud baik ente jadi penjahat ?", begitu tanya saya.

"Supaya terkenal ...", jawabnya.

"Apakah jadi penjahat satu-satunya cara untuk menjadi terkenal ..?", tanya saya lagi.

Rupanya dia sudah hafal pertanyaan-pertanyaan saya. Singkatnya, dialog inipun berlanjut sehingga berakhir saat ia mengatakan, "Kalau gitu saya tidak mau jadi penjahat".

Ketika saya menulis kisah tentang 'transfer 5 juta' dalam bentuk status facebook, Lely -seorang teman lain berkomentar : "Mas Pras berarti nggak pernah lihat pengajian ustadz Yusuf Mansyur. Yang sumbangannya rumah 1 Miliar saja ada ...".

Sepertinya teman lain itu ingin memprovokasi apa yang dilakukan Daniel masih berskala 'kecil'. Lantas, saya menimpali :

"Mbak, sepertinya teman kita ini punya keyakinannya sendiri. Maklum, dia kan mengaku belum punya agama. Dia ingin membuktikan hukum alam ini bekerja atau tidak ...".

Daniel lantas nimbrung : "Jangan cuma ngomongin sedekah doang. Praktik dong. Apalagi sedekah di kala kafir, tanpa ilusi surgawi. Jadi kafir dulu deh baru you bisa rasain bedanya".

Pernyataan ini menarik buat saya. Ia tampak percaya adanya hukum-hukum alam yang jika diikuti membawa kepada kesuksesan, tanpa dimotivasi oleh cerita-cerita mengenai surga dan neraka di alam kehidupan nanti. Saya pikir, kalau Daniel saja yang mengaku belum punya agama sudah melakukan ini, saya yang mengaku punya agama juga mustinya melakukannya bahkan bisa 'lebih' lagi, karena persepsi manfaat dan kenikmatan atau penderitaan ditarik jauh kepada nasib diri pada kehidupan selanjutnya setelah mati.

"Ada the law of vacuum", katanya. "Coba ente keluarin baju-baju yang sudah tidak ente pakai dari lemari, kasih ke orang, maka nanti kan lemari ente ada baju-baju baru lagi. Dunia tidak suka kekosongan ..".

Saya memutuskan untuk tidak segera mengirimkan uang itu kembali kepada Daniel. Saya ingin membuat 'permainan' ini menjadi serius. Tentu saja, dengan masih membawa keheranan sekaligus kekaguman atas 'kelakuan' Daniel Sang Teroris.

Lantas uang kiriman Daniel mau dibuat apa ? Kan anda bukan termasuk orang-orang yang diberi sedekah ?, mungkin itu pertanyaan anda kepada saya. Hmmmm ... saya juga sedang menunggu efek yang dialami Daniel setelah memberi uang yang saya namakan 'hibah' itu kepada saya...***

2010-07-04 19:00:00
Prasetya M. Brata
komentar
04 Jul

Lebih Menyesal Mana ?

Eka Raqueen, seorang Smart Listeners (pendengar radio Smart FM) 'senior -- karena ia sudah mendengarkan Smart FM sejak kuliah -- saya tawari untuk menemani siaran PROVOKASI. Saya tidak tahu bagaimana persisnya perasaan dia, tapi dari hasil kalibrasi singkat saya duga ia gembira bukan kepalang. Kamis malam itu ia sengaja datang ke Smart FM untuk menemui saya karena sudah lama ingin bertemu.

Ia gemar sekali 'menggauli' orang-orang yang ia anggap bisa dijadikan mentor kehidupannya. Menurut pengakuannya, nama saya termasuk salah satu yang ia tempel di dinding kamar untuk ditemui. Nama lainnya adalah Mario Teguh dan impian itu sudah terwujud.

Ketika ia mengabari kerabatnya pernah chatting melalui blackberry messenger dengan saya, kerabatnya itu malah tidak percaya dan mengira yang melayani Eka bukan saya, melainkan asisten saya. Saya memang pernah punya manajer, tetapi soal chatting, tidak saya serahkan kepadanya.

Saya pernah tanya, apa cita-citanya ? Ia jawab, menjadi motivator perempuan termuda. Saya mengangguk-angguk dalam hati -- tentu otomatis kepala saya juga mengangguk-angguk.

Sehari sebelum siaran, ia mengirim pesan BBM, "Pak saya takut ..., hehehe ..."

Seperti sudah otomatis, saya langsung melakukan meta model, yaitu mengurai persepsi yang ada di kepalanya karena terjadi generalisation, distortion, atau deletion saat melihat suatu perkara, yang berakibat menimbulkan perasaan takut itu.

"Takut apa ?", tanya saya.

"Takut .. kan baru pertamakali siaran pak. Takut salah bicara... Pak, Provokasi'in saya dong biar berani ...?", katanya.

Sejenak saya 'menerawang' apa yang ada di balik pikiran Eka untuk minta provokasi. Saya lihat ia tidak punya masalah apa-apa selain fenomena alamiah berupa 'grogi' untuk hal kali pertama. Apalagi di pesan pertama ia menulis 'hehehe...'.

"Lebih menyesal mana Ka, datang siaran dan salah bicara, atau tidak datang dan melewatkan kesempatan ini ?" ...

Pertanyaan saya ini memaksa ia untuk masuk ke dalam dirinya sendiri, lantas tidak lama kemudian ia menjawab : "Oke .... Saya akan gunakan kesempatan ini ... Saya tidak pernah menyangka akan hal ini saya alami ... ".

Meskipun saya melihat 'penderitaan' ia mulai saat datang ke studio dengan tangan dingin, deg-degan, tegang, tapi detik demi detik mengantarkannya kepada pengalaman yang saya lihat ia nikmati sekali. Beberapa kali ia bicara, ternyata isi bicaranya bermutu dan pas dengan content dan konsep siaran. Ternyata ia bisa.

Selesai siaran, wajahnya sumringah. "Dulu saya mendengar Smart FM, sekarang saya tidak menyangka berada di ruang studionya ...".***

2010-07-04 18:58:00
Prasetya M. Brata
komentar
01 May

Okeyyyyy

Mendengar dokter mengatakan saya tidak boleh makan pedes dan asem, sepersekian detik kemudian benak saya bilang, "hmm .. okeyyyyy....". Sepertinya saya mulai terbiasa -- bahasa keren-nya "unconscious competence" -- untuk menerima segala keadaan yang tidak diharapkan yang saya beri muatan perasaan 'tidak menyenangkan'.

 
Akibat dilatih oleh pengalaman berkali-kali, maka sewaktu menghadapi situasi yang tidak saya harapkan, dimana situasi itu tidak akan berubah sedikitpun karena sudah menjadi sejarah masa lalu -- meskipun baru berlangsung sekian detik yang lalu --, saya langsung acceptance dan langsung loncat kepada pertanyaan "bagaimana selanjutnya?", lantas memilih sebuah jawaban yang mengarahkan saya ke arah tujuan, kemudian bertindak menelusuri jawaban itu. Semua itu berlangsung sangat cepat dalam pikiran saya.
 
Misalnya saat mengajar tiba-tiba listrik padam dan mic mati, saya 'langsung' meletakkan mic dan melanjutkan bicara dengan lebih keras tanpa membuang-buang waktu menunggu panitia bertindak. Tentu saja jika saya bicara di hadapan 100 orang peserta. Mungkin beda ceritanya jika saya bicara di stadion olahraga dengan lebih dari 2000 peserta, maka bukan cuma saya yang acceptance, pesertapun ujian acceptance.
 
Ketika LCD mati saya segera mendayagunakan sumber daya yang tersedia di ruangan, seperti flipchart dan spidol, atau whiteboard untuk menulis atau menggambar sesuatu. Semua saya lakukan tanpa saya bertanya kepada panitia "Kok begini sih ?", "Kenapa nih ?", apalagi sampai menggerutu, "Bagaimana sih nihh ?". Saya pikir, pertanyaan-pertanyaan reaktif dan berorientasi kepada masa lalu tadi disamping tidak produktif karena menghabiskan waktu tanpa nilai tambah, juga bikin suasana jadi tambah dramatis ruwet, yang berisiko mengganggu 'state' saya untuk memberi nilai tambah yang terbaik untuk audience dan klien.
 

Bukan cuma soal 'remeh' semacam itu. Ketika terkena bell's palsy -- kelumpuhan separuh wajah akibat terganggungnya syaraf ke-7 -- saya segera acceptance dan dengan ringan membatalkan beberapa job pelatihan. Bahkan ketika dokter kandungan memberitahu saya bahwa jabang bayi yang sudah hidup tujuh bulan dalam rahim isteri saya dinyatakan meninggal dan harus dikeluarkan -- saya langsung acceptance. "Okeyyyy", kata benak terdalam saya. Ikhlas karena memang sudah terjadi. Saya baru menangis setelah mendengar suara kesedihan ayah saya di ujung telepon saat memberitahu berita ini.

 
Lalu apakah itu berarti saya tidak pernah marah atas suatu kondisi yang melenceng dari yang diharapkan ?. Tentu ... Namun setelah dilatih oleh pengalaman dan program berpikir 'acceptance' dan 'lihat ke depan' itu, marahnya merupakan pilihan, keputusan, dan mengandung niat baik untuk memperbaiki keadaan, bukan marah akibat 'korban' keadaan. Marah konstruktif, bukan marah destruktif.
 
Kembali ke soal 'pedes-asem' tadi. Ujian keberhasilan saya atas konsep 'acceptance' datang saat bubur bikinan Rina sang asisten di rumah terhidang di meja makan. Tidak ada sambal. Untung di rumah masih ada 'kerupuk kampung' dan abon sapi. Saya suka rasa manis juga. Saya kembali melakukan prosesi 'acceptance' dengan mengatakan dalam benak 'okeyyyy'. Lantas saya racik asesori non-pedes-asem ke dalam mangkok bubur. Saya hilangkan referensi rasa, tampilan, dan aroma bubur yang biasa saya makan di masa lalu. Saya lihat wujud bubur itu apa adanya. Saya lihat apa yang terlihat. Saya cium aroma bubur sebagaimana adanya. Saya cium apa yang tercium. Lalu saya suapkan bubur ke dalam mulut saya. Saya merasakan apa yang terasa. Saya perkuat rasa manis dari abon sapi kesukaan saya. Saya kunyah pelan dan saya terima apa yang saya rasakan, lalu saya beritahu pikiran saya "inilah makanan yang enak". Ajaib ! ... bubur yang di masa lalu saya cemooh dalam pikiran saya, yang saya hujat sebagai 'bubur apaan tuh ?', yang saya vonis sebagai bubur tidak enak, saat itu juga berubah menjadi enak.
 
Selesai makan bubur, sayapun bisa minum obat, karena obatnya harus diminum setelah makan. Nyatanya, bubur adalah kebutuhan saya, bukan keinginan saya. Tetapi setelah saya melihat 'kebutuhan' saya, nyatanya enak-enak saja. Buktinya, beberapa menit setelah makan, perut saya kenyang. Kenyang yang sama dengan jika saya makan sop buntut 'Cut Meutia' yang ditambahi dua sendok sambal plus perasan jeruk limau. Sekarang ketika saya disodori baso, bakwan, dan sop-sop-an, sudah bisa menikmatinya tanpa sambel dan jeruk nipis.
 
Rupanya selama ini saya dibuat menderita oleh keinginan-keinginan yang gagal dicapai padahal kebutuhan saya sudah terpenuhi. Waktu kecil ibu sudah memasakkan nasi-sayur bayam-tempe-tahu, tapi saya ogah menyantapnya gara-gara ingin ayam goreng. Saya ngambek dan bikin ibu jengkel gara-gara saya mengejar keinginan saya, bukannya kebutuhan yang sudah tersedia. Saya tidak tahu, apakah sungkem saya kepada ibu setiap lebaran sudah berhasil menghapuskan dosa-dosa kedurhakaan saya kepada ibu saya itu. Saya berharap demikian.
 
Kalau saya akhirnya bisa menikmati makanan yang sebelumnya tidak saya 'anggap' bahkan saya bilang 'tidak enak' setelah melalui proses 'menerima', 'menghapus referensi rasa masa lalu', 'merasakan apa yang terasa saja', 'mensyukuri apa yang dibutuhkan (bukan yang diinginkan) telah tersedia'. Itu berarti, dengan struktur pengalaman yang sama, maka di semua keadaan -- bahkan yang kita namakan sebagai kesialan, musibah, menyakitkan, penderitaan -- bisa kita rasakan nikmat ? ....***
2010-05-01 05:33:00
Prasetya M. Brata
komentar
18 Apr

Yang penting orangnya, atau cara datangnya ?

"Pak, minta pin BB-nya dong ..", begitu pesan seorang teman di inbox facebook.

Setelah saya beri nomor PIN, tidak lama kamipun terhubung di Blackberry Messenger. Ia memulai dialognya. Namanya Eka.

Eka : "Maaf pak, malam-malam sudah mengganggu istirahat Bapak. Terimakasih sudah confirm saya".

Eka : "Hehehe ... sama-sama Eka".

Eka : "Saya butuh PIL Pak yang namanya PROVOKASI".

Saya : "Hehehe ... copy kapsul-kapsul PROVOKASI saya saja, biar bisa didengarkan di MP3 Player".

Eka : "Saya sedang down Pak. Boleh 'curhat' ?"

Saya : "Silakan Eka. Whazz up ?"

Eka : "Saya sering sekali mendengarkan keluh kesah orang-orang yang bahkan baru saya kenal. Saya sering memberi advice kepada mereka. Tapi terkadang jiwa saya berontak. Kepada siapa saya harus bercerita, jika untuk mendapatkan pendamping hidup saya saja harus diatur orang tua .. ?".

Saya tercenung sejenak. Sebuah kisah klasik.

Saya : "Harus diatur ?. Begitukah kata orang tua ?"

Eka : "Ya tidak bicara secara langsung .. Tapi kata-katanya mengarah kepada hal itu dan menjadi beban pribadi saya."

Saya : "Terus, apa maksud orang tua Eka melakukan hal itu ?"

Eka : "Ya mencari yang terbaik untuk anaknya ...".

Saya : "Eka mau mendapat yang terbaik ?"

Eka : "Tentu Pak".

Saya : "Terus calon pasangan hidupnya sudah ketemu ? Orang tua sudah berhasil menemukannya ?"

Eka : "Belummmm .. heheeeee ..".

Saya : "Apa bedanya dicarikan orang tua sama dicomblangin teman ?. Yang penting 'kan bagaimana calonnya toh ?, bukan cara mendatangkan si calon 'kan ?".

Eka : "Hmmmm ...."

Saya : "Kalau nanti calonnya nggak cocok, tinggal bilang saja ke orang tua. Bilang, tidak cocok. Orang tua mungkin juga tidak mau kasih calon yang nggak bikin bahagia si anak. Kalaupun nanti Eka menemukan calon sendiri, kan tinggal bagaimana Eka dan sang calon melakukan pendekatan yang baik dan pas kepada orang tua, sehingga mereka menyimpulkan calon Eka LAYAK dan PANTAS menjadi pendamping anaknya."

Eka : "Iya sih Pak..."

Saya : "Apakah calon yang dicarikan orang tua SELALU buruk ?"

Eka : "Ya nggak sih .."

Untuk menguatkan bingkai berpikir ini melalui bukti nyata, saya merujuk kepada pengalaman saya sebagai fakta.

Saya : "Soalnya saya sendiri dijodohin sama temen, hehehe ... Habis cari sendiri nggak dapet-dapet. Begitu dicarikan dan ketemu, eh, malah jadi isteri sampai sekarang."

Eka : "Tapi sekarang saya sudah gembira Pak ..."

Saya : "Apa yang membuat Eka gembira ?"

Eka : "Karena bisa sharing dengan orang seperti Bapak ..." ***

2010-04-18 05:59:00
Prasetya M. Brata
komentar
16 Apr

Lihat saja jalannya

"Kita observasi dulu lima hari untuk melihat perkembangan gejalanya ... setelah itu kita tentukan tindakannya ..", begitu Dr. Dharmika Djojoningrat, Sp.PD, KGEH, dokter spesialis penyakit dalam dan konsultan gastro-enteorologi kepada saya. Sudah tiga hari sejak minum obat dokter lain, gejala nyeri di ulu hati belum hilang juga. Dokter pemeriksa sebelumnya 'akhirnya' memvonis saya kena gastritis - radang lambung, setelah melalui pemeriksaan darah, urine, dilanjutkan USG Abdomen, diperiksa dokter bedah untuk melihat kemungkinan usus buntu, dan akhirnya dokter internist.

 
Selesai dr. Dharmika menuliskan resep dan mengisi formulir pemeriksaan kesehatan untuk perusahaan saya, dan saya membubuhkan tandatangan di buku "PROVOKASI, Menyiasati Pikiran Meraih Keberuntungan" untuk sang dokter, saya pamitan. "Terimakasih Dok ...".
 
Sang dokter yang sudah saya kenal sejak awal 90-an dan pernah merawat ayah saya empat tahun sebelum wafatnya akibat penyakit sirosis hati, melihat ke arah isteri saya dan nyeletuk, "Eh, ibu gemukan ya ?".
 
Seperti mendapat umpan di dunia komedi, saya langsung nyamber, "Iyaaaa". Isteri saya pun tersipu-sipu salah tingkah.
 
Isteri saya memang sudah hampir sebulan melanjutkan program penurunan berat badan di sebuah pusat kebugaran. Dua hari lalu, ia sempat memamerkan kepada saya celana sudah kendor, alias perutnya sudah mengecil. Berat badannya pun telah susut sedikit.
 
Karena saya masih 'invalid', kali itu yang mengemudi mobil adalah isteri saya. Pada separuh perjalanan pulang, di perempatan Panglima Polim, isteri saya merajuk, "Iiiiihhh .. sebel dehhh .. Em Em (mau marah - red) deh sama Dokter Dharmika ... masak aku dibilang gemuk ... padahal kan udah fitness. ..". Saya cuma cengengesan.
 
Sekitar lima kilometer setelah itu, di keheningan mobil tanpa obrolan di bilangan Pondok Indah, tiba-tiba isteri saya bilang, "Uuuhhh .. nggak fair deh ... kalau laki-laki usia 40-an gemuk dibilang sukses, kalau perempuan kok dibilang gendut ?". Rupanya imaji 'gemuk' yang dilempar oleh Dokter Dharmika masih belum beranjak dari pikirannya.
 
"Hahahaha ... bagus dong ... berarti kata-kata dokter Dharmika sudah memberdayakan kamu ..", kata saya.
 
"Yaaa kan aku udah fitness ...udah usaha ..", protes isteri saya.
 
"Lhaa, emangnya dokter Dharmika tau kamu fitness .. Yang dilihat kenyataan yang tertangkap oleh panca inderanya tadi 'kan ? .. Sekarang mau fitness kek mau jumpalitan kek, kenyataannya dilihat oleh dokter Dharmika kamu gemuk ... hehehehe. Sama juga kalo aku kerja .... biar aku bilang udah usaha sana sini, tapi kalo boss lihat hasilnya gitu-gitu aja, mau alesan apa ..?".
 
"Lho, tapi itu kan stigma masyarakat .. Nggak fair dong ..", bantah isteri saya.
 
"Hehehe .. ngapain juga menyalahkan stigma ... stigma jadi kambing hitam. Kenapa mau menjadikan stigma sebagai penggerak ?. Sekarang gini ... simpel aja deh ... aku tanya ... kamu pengen gemuk atau kurus ... Dari kamunya sendiri gimana ?", tanya saya.
 
"Ya kurus ...", jawab isteri saya.
 
Dengan cepat saya balas, "Lha ya udah 'kan ... kamu 'kan maunya kurus ... sementara kenyataannya kamu gemuk ... berarti antara kenyataan dan keinginan tidak sama ... ada gap ... lah, kan tinggal tinggal usaha menuju ke apa yang diinginkan .. ngapain pake dengerin stigma-stigma masyarakat kalau kamu udah usaha ? ... bisa bikin ribet sendiri yang malah bikin proses 'upaya' kamu kepada hal yang diinginkan jadi terhambat - minimal susah hati ... hehehe "...
 
"Iya juga ya ... heheheh ...", cetus isteri saya.
 
Isteri sayapun semakin tenang. Manuver mengemudinya semakin enak ...***
2010-04-16 11:42:00
Prasetya M. Brata
komentar