-
Bubur ayam spesial ala Aa Gym
Rekan lama saya - Fransiscus Herbayu -- langsung mengomentari tulisan saya berjudul 'Kembali Kepada Diri Sendiri'. Karena etos kerja yang rendah, seorang mandor bangunan menyesal setengah hidup karena ternyata hasil kerjanya berupa rumah yang merupakan pesanan terakhir bossnya, diberikan untuk dirinya sebagai bekal pensiun. Bayu kemudian memprovokasi saya dengan memanjangkan skenario cerita : walau pun menyesal, masih untung juga mandor itu, lha wong gratis... ada beberapa kemungkinan setelah itu, rumah direnovasi lagi karena sudah banyak duit, atau langsung jual, atau dipakai untuk orang yg kurang mampu. kalo kita diposisi mandor itu, apa yg akan kita lakukan?
Saya pikir Bayu adalah orang yang proaktif. Dia melihat ke depan. Oke, katakanlah kita berbuat kesalahan dan kita menerima akibat dari kesalahan itu. Kita menerima hasil atau keadaan yang buruk. Daripada berlama-lama dalam kesedihan, setelah menyadari betul titik kesalahan kita, kita segera berpikir 'bagaimana supaya keadaan ini bermanfaat buat saya ?'. Maka, Bayu menawarkan beberapa alternatif tindakan : renovasi, jual, atau disumbangkan. Semuanya bermanfaat.
Saya jadi ingat cerita khas Aa Gym. Kalau nasi sudah jadi bubur, tidak usah meratap. Bubur tetaplah bubur. Yang penting kita segera cari ayam, cakwe, seledri, bawang, kacang kedelai, daun bawang, kecap manis, kecap asin, krupuk dan sambel. Jadilah bubur ayam spesial.
Proaktif, berarti pikiran dan perasaan saat ini dan masa depan tidak diringkus oleh kejadian dan emosi saat lalu. Pikiran dan perasaan kita bebas dari masa lalu, lalu diarahkan oleh pertanyaan : bagaimana supaya bermanfaat ? Tapi hati-hati. Tanpa kesadaran penuh atas apa yang benar dan apa yang salah, kita bisa nyemplung ke wilayah 'mati rasa'. Oke, kemarin saya nyolong duit perusahaan, sekarang ketahuan, dihukum, dan menyesal. Percuma saya sedih. Lebih baik saya berpikir ke depan bagaimana nyolong lagi tanpa ketahuan ...2007-11-15 03:35:00 | Komentar di non-aktifkan untuk artikel ini
-
Kembali kepada diri sendiri
Saya kerap mengisahkan cerita ini di pelatihan-pelatihan. Saya lupa sumbernya, tapi mungkin sudah pernah anda baca atau dengar sebelumnya. Di SMART FM juga pernah dikisahkan oleh seorang pembicara. Ada seorang mandor bangunan yang minta pensiun kepada bossnya setelah bekerja 20 tahun. Tabungannya sudah banyak. Ketika permohonan berhenti diajukan, bossnya menolak. "Proyek kita masih banyak, nanti gimana dong, saya susah cari orang yang kayak kamu. Kerjamu bagus". Si Mandor ngotot. Lama-lama akhirnya bossnya menyerah. "Oke, kalo itu keinginanmu, aku kabulkan dengan satu syarat. Tolong buatkan saya satu rumah lagi".
"Yaah boss, saya sudah ngebet pengen pensiun," katanya. "Alaaah, satuuu lagi saja ... cuma satu,"jawab bossnya. Akhirnya si Mandor tadi mengiyakan dengan ogah-ogahan. Ia kemudian mengerjakan pesanan satu rumah terakhirnya. Karena pikirannya sudah tidak fokus, ingin segera pensiun dan beristirahat, yang biasanya bekerja dengan penuh ketekunan, kali ini buru-buru. Pengecatan cukup sekali, yang biasanya 3x. Lantai tidak rata. Kusen kurang lurus. Tidak seperti biasanya, hasil kerjanya kali ini kurang bagus. Tapi ia tidak peduli karena yang ia pikirkan adalah segera pensiun. Toh, habis ini tidak ada tugas lagi. Titik.
Setelah selesai lebih awal dari jadwal normal, si Mandor menghadap bossnya di kantor. "Boss, pesanannya sudah jadi, silakan dilihat di lokasi". Si Boss mengambil kunci rumah yang diberikan oleh si Mandor, kemudian ia berkata kepada si Mandor, "Aku senang kamu selesai lebih cepat. Atas pengabdianmu selama 20 tahun, dan demi persahabatan kita, ini -- ambil kunci ini -- aku serahkan rumah itu buat bekal pensiunmu...." Gubrakkk! Si Mandor pingsan karena menyesal.
Segala sesuatu yang kita lakukan, akan kembali kepada kita sendiri. Kalau kita kerja dengan penuh kualitas, hasilnya akan 'penuh' pula kembali kepada kita. Kalau kita kerja bagus, maka kita juga dapat bagus. Kalau kita kerja setengah-setengah, maka kita dapat setengah-setengah juga, malah mungkin tidak sampai setengah. Kalau anda kerja culas, malas-malasan, mengakali aturan, atau malah kerja rajin, disiplin, tekun, semuanya akan kembali kepada diri anda sendiri. Makanya anda kalau mau menghormati orang tidak usah pusing dengan respon mereka, toh anda memberi penghormatan kepada orang lain itu juga sebenarnya untuk kebaikan diri anda sendiri. Kalau anda tidak mau menghormati orang lain, itu juga hasilnya akan kembali ke diri anda sendiri.
Jadi, kalau anda di ruangan ini mengantuk, melamun, ngobrol, keluar ruangan, no problemo. Silakan saja, saya tidak terganggu. Saya tidak rugi. Karena apa yang anda lakukan sesungguhnya bakal kembali kepada diri anda sendiri...
Selesai menceritakan kisah ini, biasanya, mereka yang mengantuk atau kurang perhatian, jadi bangun kembali ...2007-11-15 00:28:00 | Komentar di non-aktifkan untuk artikel ini
-
Kutukupret
Sahabat saya -- Dokter Silviani, kedatangan serombongan keluarga masuk ke ruang prakteknya mengantarkan seorang pasien diperiksa. Setelah pasien tadi selesai diperiksa, satu di antara mereka minta sekalian diperiksakan ibu dan anaknya. Karena melihat 'potongan' orang-orang tadi belum bisa dikategorikan gakin (keluarga miskin), maka sahabat saya itu minta mereka mendaftar dulu untuk dibuatkan status. Bukan apa-apa, selain dokter perlu catatan medis, menurut intuisi sahabat saya, mereka cuma ingin 'paket hemat'. Ibarat naik bajaj, diisi sebanyak-banyaknya penumpang, toh bayarnya sama.
Mirip dengan pengalaman saya 'sering' melihat ada satu-dua orang nyamper seseorang yang telah mengantri mengambil makan di sebuah resepsi pernikahan. Kebetulan orang yang disamper itu sudah berada pada posisi depan. Sang penyamper biasanya basa-basi ngobrol sebentar, lalu nyelip di belakang si orang yang disamper tadi. Tujuannya, mereka tidak perlu antri dari belakang.
Kekesalan juga biasanya muncul saat antrian kendaraan sudah bagus teratur satu jalur, eeh, tau-tau mobil di belakang keluar antrian, ambil jalur kiri, mempet pinggir badan jalan, kucluk-kucluk-kucluk, langsung ke depan, dan masuk lagi antrian gara-gara terhambat batu besar atau mobil parkir. Akibatnya, kendaraan yang antri harus berhenti karena si mobil kutukupret tadi minta jalan. Lebih buruk lagi, kelakuan mobil kutukupret tadi diikuti oleh kutukupret lainnya (sebenarnya yang kutukupret pengemudinya, bukan mobilnya). Dalam neuroscience, diketahui ada syaraf di otak yang disebut mirror-neuron, yang menyebabkan adanya perilaku seseorang yang cenderung mengikuti perilaku orang lain. Oh ya, cap 'kutukupret' ini hanya berlaku buat mobil yang motifnya ingin 'ambil untung' tadi, bukan karena dia dalam keadaan darurat harus ke rumah sakit.
Tapi yang ingin saya ambil dari kisah di atas bukanlah soal ikut-mengikut perilaku orang lain. Bahwa ketiga contoh perilaku di atas mencerminkan betapa (sebagian) masyarakat tidak peduli terhadap kepentingan orang lain. Sikap ini dipicu oleh scarcity mentality -- mental kekurangan. Ini mental orang miskin.
Buat orang yang berselancar di atas realitas -- kira-kira bisa disebut oportunis -- , mungkin kegundahan saya ini akan ditanggapi : "Aduh bow, sistemnya emang kayak gini, kalo nggak pinter-pinter cari celah dan peluang, ntar mati sendiri, rugi sendiri, kagak kebagian. Emang gw pikirin, wong pemerintah aja nggak mikirin ?" .....2007-11-14 21:48:00 | Komentar di non-aktifkan untuk artikel ini
-
Pincang ...
Anda pasti sudah mafhum (ini bahasa Arab, artinya : faham) kalau manusia punya empat dimensi yang harus diseimbangkan : fisik, mental (mind), sosial emosional, spiritual. Hampir semua guru kehidupan mewejangkan hal ini. Stephen R. Covey menganjurkan pembaharuan di empat bidang ini menjadi suatu kebiasaan agar menjadi manusia efektif.
Dalam konsep pelatihan yang saya kembangkan di institusi yang saya pimpin, ramuan materi, metode, dan proses pembelajaran diupayakan menyentuh ke-empat bidang ini. Ada unsur olah fisik, olah pikir, olah rasa, dan olah batin. Dari pengalaman saya, dari ke-empat bidang ini, ada kecenderungan klien saya agak membelakangkan materi yang terkait dengan spiritualitas. Buat mereka tidak berhubungan langsung dengan tercapainya target-target pekerjaan. Mereka lebih suka materi-materi yang bikin mereka dengan cepat bisa menyelesaikan tugas. Urusan 'ibadah' urusan masing-masing.
Di sini saya merasa ada yang kurang pas ketika spiritualitas diartikan ibadah thok. Tapi saya belum ingin membahas spiritualitas lebih dalam sekarang. Saya cuma ingin katakan bahwa spiritualitas bicara tentang apa yang benar dan apa yang salah - bukan dalam relativitas.
Cerdas fisik, cedas pikir, cerdas emosi, tanpa cerdas spiritual, kira-kira inilah yang terjadi ...
Ada sekelompok orang yang bekerja sangat piawai. Mereka sehat dan kuat. Penampilan juga perlente. Mereka mengembangkan metode yang sangat efektif untuk menuntaskan pekerjaan dengan cepat, aman, dan bermutu. Mereka begitu cekatan. Hasil pekerjaannya bagus-bagus. Mereka juga sangat cerdas emosi. Mereka sanggup bersabar dalam menunggu proses pekerjaan selanjutnya. Kalau terjadi kegagalan, mereka tidak marah-marah, malah dengan cepat mengambil langkah-langkah penyelamatan dan perbaikan dengan tenang. Pengalaman kegagalan mereka dijadikan pelajaran berharga. Mereka berorientasi ke depan. Mereka bekerja dengan antusias. Pemimpin mereka memperhatikan betul kesejahteraan mereka. Solidaritas di antara mereka kuat. Mereka jujur untuk berbagi keuntungan dari hasil kerja mereka. Mereka saling tolong menolong dan saling mendukung. Mereka adalah para anggota sebuah mafia kejahatan !2007-11-14 05:55:00 | Komentar di non-aktifkan untuk artikel ini
-
The Secret by Ade
Ditulis oleh : Renilde Orwella
Pertama kali mendengar Pak Prass cerita tentang the law of attraction, saya sudah tertarik ingin mempelajarinya. Sampai sebuah DVD ada di tangan saya dengan judul 'The Secret'. Pak Prass menyarankan saya untuk menontonnya minimal dua kali.
Pertama kali nonton DVD ini, saya belum terlalu mencermatinya. Sesekali saya tinggal ke dapur atau sibuk sms-an. Tapi inti dari The Secret ini adalah apa yang kita inginkan, maka itu akan terjadi. Setelah menonton sekali, saya sempat mempraktekkannya. Saya menulis beberapa keinginan saya dan mencoba fokus terhadap keinginan tersebut. Namun itu tidak bertahan lama. Keesokan harinya saya sudah lupa tentang the law of attraction.
Sampai empat hari kemudian, eh salah deh, seminggu kurang sehari lah, tepatnya hari Minggu, saya sakit (terkapar bow!) yang menyebabkan saya istirahat dua hari di rumah. Tepat jam 10 hari Selasa karena bosen tidur mulu, saya memutar kembali DVD The Secret. Kali ini saya menontonnya dengan serius .. Setelah nonton, saya merasa sangat ingin merubah pola pikir saya selama ini.
Hal pertama yang saya lakukan adalah saya berkeinginan untuk sembuh dari sakit yang sedang saya alami. Berkali-kali saya berkata "Saya sembuh" dan itu saya tanamkan benar di dalam pikiran saya bahwa besok saya sembuh. Dan tahukah anda, ternyata saya sekarang benar-benar sembuh. Saya tidak merasa sedikitpun bahwa saya sedang sakit (walaupun masih mengkonsumsi obat) .. hehehe ...
Tapi sedikit-banyak, ada benang merah yang dapat saya tarik dari pengalaman ini (mana benang merahnya yah ??).
Setiap keinginan apapun dapat tercapai dengan memintanya dan terus membayangkannya. Yakin dan fokus
Kita dapat menjadi apapun yang kita inginkan .. dan kita dapat memiliki apapun yang kita inginkan ...
Minta, yakin .. maka kita akan mendapatkannya .. apa yang kita inginkan ..Maka jangan memikirkan sesuatu yang tidak kita inginkan .. karena akan menjadikan itu menjadi kenyataan ...
2007-11-13 21:49:00 | Komentar di non-aktifkan untuk artikel ini
Artikel
2013
2012
2011
2010
2009
- Oktober (1)
- September (1)
- Agustus (2)
- Juli (2)
- Juni (2)
- Mei (2)
- April (1)
- Maret (1)
- Pebruari (3)
- Januari (4)
2008
- Desember (1)
- November (7)
- Oktober (7)
- September (7)
- Agustus (6)
- Juli (5)
- Juni (4)
- Mei (2)
- Maret (3)
- Pebruari (4)
- Januari (5)
2007

- Coretan Anak Batam
- BUKU PROVOKASI
- Moekti Prasetiani Soejachmoen's Friendster
- Moekti Prasetiani Soejachmoen's Blog
- Syamsul Hatta
- Riri Satria
- Ririe Artakusuma (Smart FM)
- Yudistira S. Aji Soedarsono
- Rini Unyil
- Thoughts of Brata versi Wordpress
- AL Mansur
- Ana Mustamin
- PROVOKASI di DETIK.com
- dr. Silviani Sri Rahayu, SpKK
- Soegianto Hartono
- dr. Aufi
- Coretan Anak Batam (terbaru)
- Hilal Achmad
- Harimurti Wibowo (personal)
- Dedi "NAFF" Raksawardana
