Gangguan pikiran akibat membaca tulisan - tulisan di situs ini merupakan tanggung jawab pembaca masing - masing.

  • Kesialanmu hanya untukmu sendiri

    Setelah selesai urusan merawat mobil di sebuah bengkel di dekat rumah, saya segera mengajak kendaraan saya itu meluncur di atas aspal menuju ke suatu tempat yang setengah jam sebelumnya bersemayam di pikiran saya. Karena memang sudah waktunya makan siang, tadi saat di ruang tunggu bengkel, sang lambung memberi suatu pesan kepada otak saya yang membuat sang otak  memanggil jenis makanan apa yang sedang ingin diajak berkencan oleh sang selera. Di pikiran saya ada dua makanan yang --- 'pluk'.... --- nongol, yaitu bebek goreng plus kepala ayam di Pasar Bintaro sektor 2, dan soto betawi H. Usman.  Setelah saya melakukan analisis kinestetik tanpa menggunakan metode AHP, muncullah bebek goreng yang memiliki preferensi lebih tinggi.

    Namun begitu, karena selama ini saya menyantap bebek goreng itu malam hari, sementara saat itu siang hari, maka saya menurunkan level of confidence menjadi separuhnya. Maksudnya, kalau ternyata warungnya belum buka, saya sudah punya contigency plan dengan opsi kedua, yaitu soto betawi H. Usman.

    Benar saja. Opsi pertama gugur, karena realitasnya warung itu memang belum buka. Orang lain menyebutnya masih tutup. Dengan mudah saya segera acceptance dengan kondisi tersebut, lantas menghilangkan semua atribut pikiran yang berhubungan dengan bebek goreng, dan -- 'pluk' -- soto betawi H. Usman-pun segera hadir dalam layar bioskop pikiran saya. Selanjutnya atribut-atribut yang berhubungan dengan soto betawi tersebut muncul. Semangkok soto betawi plus nasi putih, kecap, sambel, dan jeruk limau. Temperatur warung yang sedikit panas dihalau dengan kipas angin yang berputar di langit-langit,  membuat keringat keluar ketika sampai pada suapan ketiga. Semua sudah begitu jelas di pikiran, sampai saya 'lupa' melakukan risk management berupa kemungkinan risiko lain yang menghalangi saya mendapatkan apa yang saya bayangkan tadi.

    Seratus meter menjelang warung soto betawi H. Usman, visual dan kinestetik saya semakin kuat. Indikatornya adalah antusiasme saya dalam menekan gas mobil serta menguatnya sensasi rasa tertentu di mulut. Begitu mobil akan dibelokkan ke arah halaman warung, tiba-tiba "Gubrakkk". Itu bukan suara saya jatuh atau mobil saya ditabrak sesuatu. Itu adalah istilah anak muda sekarang kalau mereka kaget tidak menyangka. Sang tukang parkir melambai-lambaikan tangan tanda sotonya habis. "Sial !", kata saya dalam hati.

    Tanpa perlu nggrundel panjang, saya segera berputar arah pulang, sambil mencari-cari tempat makan apa yang menarik selera. Tepat di halaman mesjid Al-Istiqomah tempat biasa saya dan beberapa sahabat penggiat pemberdayaan diri berkumpul, saya melihat ada warung kecil dengan tulisan "Gado-gado". Selera saya langsung terbit. Apalagi saya memang sedang butuh makanan yang banyak unsur sayurnya. Inipun sebuah pembenaran karena nyatanya dua mantan kandidat makanan sebelumnya miskin unsur sayuran.

    Saya segera menepikan kendaraan, dan dengan penuh percaya diri mendekati warung gado-gado tadi. "Mas, satu ya ...". Mas penjual gado-gado melihat ke arah kaca depan. Sayapun ikut-ikutan melihat ke arah yang dilihat si mas penjual. "Maaf pak, habis". Sayapun melihat di tempat bahan baku gado-gado tinggal sebiji timun. Tidak ada apa-apa lagi.

    "Sial !", kata saya dalam hati sambil beranjak ke arah mobil lagi. Tiba-tiba, "PLAKKKKK!!!", ada sebuah tangan imajiner menampar pipi saya .... PLAKK! PLAKK! PLAKKK! ... lagi-lagi pipi saya tertampar. Sesosok ego state saya muncul dan langsung berkacak pinggang di hadapan saya, lantas berkata, "Hei Prass ... apa tadi kamu bilang ? ... Sial ??" ...

    Saya menjawab dengan deg-degan, "Iya ...".

    "PLAKKKK!" ... sekali lagi pipiku tertampar tangan imajiner.

    Dengan suara yang lebih keras, si ego state berkata, "Hei ! ... dasar kamu egois ! ... semestinya kamu mengucapkan "ALHAMDULILLAH", bukan malah "Sial" ...."

    "Kok ?... ", tanyaku protes.

    "Dasar guoblokkk! ... kalau soto betawi dan gado-gado itu siang-siang sudah habis, itu tandanya kan dagangan mereka laku keras.  Bukankah itu yang menjadi salah satu tujuan mereka berdagang ?. Mereka  itu berarti sedang menerima rezeki jatahnya dari Tuhan. Kalau kamu sedang menyaksikan sebuah peristiwa dimana Tuhan sedang memberikan anugerah kepada hambaNya hari itu, mengapa kamu tidak ikut bersyukur dengan peristiwa ini ?? .... Alih-alih mengagumi peristiwa ini dengan ucapan Allahu Akbar, Subhanallah, dan Alhamdulillah, kamu malah sibuk dengan memperhatikan kepentingan kendaraan hidupmu sendiri yang bernama perut itu, dan malah menamakan peristiwa ini sebagai sial ...!". Tiba-tiba sang ego state menghilang.

    "Astaghfirullah ....", ujarku lemas. Sejenak kemudian aku berdoa, "Ya Allah, berikanlah aku keberuntungan yang bukan merupakan kesialan orang lain ...***

    2011-07-30 00:23:00 | Komentar di non-aktifkan untuk artikel ini

  • Terpeleset Makna Spiritual

    Ketika dua tahun lalu saya terkena bell’s palsy, penyakit kelumpuhan separuh wajah akibat gangguan syaraf ke-7, saya segera menulis makna ‘penghiburan’ yang kemudian menjadi bagian dari buku “Provokasi 2, MANTRA Mengubah Nasib Dengan Kata” terbitan PT Gramedia Pustaka Utama.  Saat itu saya menulis bahwa akibat terkena sakit bell’s palsy, isteri saya mempercepat kepulangannya ke Indonesia, lantas saya mendapat anugerah kunjungan dan perhatian dari teman-teman baru  yang tidak mungkin berkunjung jika saya tidak sakit, dan akhirnya sakit itu adalah doa yang dikabulkan Tuhan dengan cara elegan agar saya dan isteri mempunyai waktu penuh untuk bersama.

    Saya melakukan reframing positif dengan menamakan keadaan yg saya alami bukanlah ‘sakit’, namun hanya ‘mengalami kondisi tertentu yang memerlukan treatment khusus’.  Saya juga mengutip penghiburan dari salah seorang teman facebook yang mengatakan bahwa tidak semua orang mendapat kesempatan mengalami bell’s palsy. Saya adalah orang yang dapat bercerita panjang lebar tentang bell’s palsy karena saya pernah mengalaminya.

    Saat saya mengalami vertigo kambuh, terkena gastritis, dan sakit-sakit berikutnya, maka saya menganggukkan kepala sambil tersenyum ketika beberapa sahabat mengutip dogma ajaran agama  bahwa sakit itu adalah sebuah anugerah Tuhan untuk mengugurkan dosa-dosa saya. Saya terhibur.

    Ketika makna-makna itu saya pasang sebagai bingkai berpikir, maka perasaan sayapun menjadi tenang dan damai. Saya dapat menjalani hari-hari penyembuhan saya dengan lebih antusias. Tuhan yang memberi penyakit, Tuhan pula yang memberi obat.

    Sepintas memang makna itu bermanfaat buat diri saya. Tetapi jika saya tidak waspada, saya dapat terjerumus menjadi manusia yang tidak bertanggungjawab.  Kok bisa ? ... Karena saya menganggap penyakit ini diberikan Tuhan sebagai ujian dan cobaan, maka saya lupa bahwa segala sesuatu itu ada penyebabnya. Seringkali sebabnya diciptakan oleh manusia sendiri, tapi karena saya tidak mau disalahkan, maka saya perlu mencari kambinghitam.

    Berapa banyak orang yang terkena penyakit jantung atau stroke mengatakan, “Siapa sih yang minta kena penyakit ini ? ... Saya juga tidak mau kena penyakit ini. Penyakit ini adalah bentuk kasih sayang Tuhan yang telah memberi ujian kepada saya agar saya bersabar ...”.  Pertanyaannya, siapakah yang merokok ? siapakah yang makan makanan penuh kolesterol tinggi dan nutrisi tidak seimbang ? Siapakah yang abai terhadap mengistirahatkan tubuh yang cukup ? Siapakah yang kurang olahraga ? Siapa yang tidak update dengan informasi dan pengetahuan kesehatan ? Kok lantas dengan entengnya dia menuduh Tuhan sebagai ‘sebab’ dari keadaan dirinya ?

    Soal kekuasaan Tuhan dalam menjadikan segala sesuatu itu tidak perlu diperdebatkan. Tidak terbantahkan. Tetapi kalau kita ingat ayat Tuhan di segala agama yang bermakna universal : “tidak akan Tuhan ubah nasib manusia sebelum manusia itu mengubah apa-apa yang ada dalam dirinya”, maka kita akan tahu bahwa Tuhanpun mengajarkan soal sebab di wilayah kendali manusia yang memberi akibat berubahnya keadaan manusia itu sendiri.

    Suatu siang saya sedang berbincang dengan seorang teman tentang keadaan perusahaannya. Katanya, atasannya berkata bahwa selamat tidaknya perusahaannya itu tergantung dari kuasa Tuhan. Sang atasan mencontohkan Briptu Norman. Jika bukan karena kehendak Tuhan, tidak mungkin dalam waktu singkat Briptu Norman terkenal.

    Saya lantas menyitir budayawan Prie GS yang mengatakan bahwa kepopuleran Briptu Norman itu disebabkan oleh  adanya niat menghibur temannya yang sedang kesusahan. Saya menambahkan, jika saja Briptu Norman tidak ‘kompeten’ dalam berjoged dan lypsinc, maka kemungkinan penampilannya tidak enak dilihat. Kompetensi Briptu Norman itu merupakan hasil dari minat dan latihan yang ia lakukan bertahun-tahun. Kompetensi dan niat tulus itulah yang menjadi sebab akhirnya Tuhan ‘menjadikan’ perubahan kehidupan Briptu Norman.

    Kali ini, di atas ranjang kamar perawatan sebuah rumah sakit akibat infeksi viral yang berwujud gejala tipus, saya memisahkan diri dari diri saya sendiri, kemudian membaca kembali seluruh makna yang pernah saya beri terhadap keadaan saya saat itu. Saya kemudian berkata kepada saya sendiri, “Prass, boleh saja kamu beri arti bahwa setiap sakit kamu ini sebagai kesempatan untuk menyeimbangkan hak tubuhmu dan kesempatan gugurnya dosa-dosamu .... tapi apapun makna yang kamu beri, tetap saja sekarang ini pekerjaanmu terlantar, jadwal-jadwal terkait dengan orang lain terganggu, dan banyak orang yang kepentingannya terhambat karena ketidakhadiranmu ...”.

    Makna sakit yang saya gunakan berpotensi melenakan saya. Dengan makna-makna itu sakit menjadi begitu indah. Saking indahnya, saya kalau sakit lagi tinggal pakai saja makna serupa. Beres. Saya lupa, bahwa esensi sakit adalah sebuah kesadaran dan rencana tindakan agar kita tahu bagaimana menjadi sehat dengan bertindak, sehingga tidak sakit lagi. Karena kalau saya sakit, akan ada banyak orang lain yang kesusahan... ***

    2011-04-19 17:54:00 | Komentar di non-aktifkan untuk artikel ini

  • Mengubah Nasib Dengan Kata, oleh Rahmadsyah Nurdin

    Assalamu’alaikum wr.wb
    Shahabat saya yang baik. Semoga sapaan salam saya hadir dalam suasana usaha-usaha terbaik yang sedang Anda lakukan untuk menciptakan nasib baik bagi kehidupan Anda. Mudahan, Anda dan saya selalu terbimbing, supaya terus dan terus mengupayakan diri menjadi pribadi-pribadi yang semakin bertambah baik amalnya.

    Mengubah nasib dengan kata. Itulah tema yang akan di bahas oleh Bapak Prasetya M Brata, pembicara siaran Provokasi di Smart FM pada event The 2nd Indonesia NLP Confence, 2 April 2011. Saya tidak begitu tau bagaimana persisnya maksud dari tema tersebut. Bahkan mungkin Anda pun bertanya-tanya di dalam hati, seperti saya juga.

    Tulisan ini saya tulis, bukan karena sudah ada bisikan bocoran atau kisi-kisi (seperti ujian di sekolah dulu ya, ada kisi-kisinya) dari beliau. Namun, berdasarkan pengalaman yang saya alami, yang tiba-tiba saja muncul di fikiran saya, saat saya duduk di depan simungil Acer untuk menulis.

    Tema ”Mengubah Nasib dengan Kata” pun, menjadi pilihan kupasan ide-ide gila di fikiran saya. Berbicara mengenai nasib, tidaklah lepas dengan freewill. Ada yang mengartikan freewill itu sebagai sesuatu yang masih ada wewenang dalam diri kita untuk menentukan mana yang mau kita pilih.

    Ini sangat sesuai kalau di lanjutkan dengan penjelasan yang saya dapatkan saat mengikuti training Ummat Terbaik Hidup Berkah, yang diselenggarakan oleh Dinar Coach. Bapak Syamsul Arifin sebagai trainernya menjelaskan, yang namanya Nasib itu terbagi dua.Pertama, nasib yang sudah di tentukan. Kedua, nasib yang masih bisa kita tentukan.Sebagai contoh, nasib yang sudah ditentukan itu seperti kecelakan pesawat, lahir dari ayah ibu siapa, dan dari suku apa. Sementara yang masih bisa kita tentukan, Contoh : Seperti saya sekarang ini, mau menulis ”Mengubah Nasib dengan kata-kata”. Padahal saya masih punya kesempatan dan pilihan untuk menulis tema lain kan? Dan ini sifatnya bukan paksaan atau keharusan. Berbeda dengan nasib yang petama tadi.

    Kembali ke tema, ngomong-ngomong mengenai ”Mengubah Nasib Dengan Kata”. Kalau Anda mau tau lebih detil dan lebih rinci, bisa ikuti The 2nd Indonesian NLP Conference, pada 2 April 2011, ikut kelas Pak Prasetya M.Brata. Sementara saya sekarang akan membahas menurut versi saya.

    Sebelumnya saya mau mengetahui, siapa diantara Anda pernah mengalami kondisi seperti di bawah ini:

    1. Anda Melakukan presentasi / prospecting ke klien / nasabah Anda, ternyata hasilnya, nasabah merespon tidak sesuai dengan harapan Anda. Dan kejadian ini Anda alami berulang-ulang sampai 7 kali.
    2. Anda seorang lelaki sedang melakukan PDKT, dengan seorang gadis pujaan hati. Apabila Anda mendengar, melihat apalagi berdekatan dengannya, memunculkan gejolak nan membara pada bagian tertentu di tubuh Anda. Kemudian Anda menyampaikan isi hati Anda kepadanya. Namun, si wanita merespon tidak sebagaimana Anda harapkan. Anda mencoba berulang kali, tapi hasilnya tetap sama. Demikian pula terjadi dengan usaha Anda kepada wanita lain (yang menjadi pujaan hati Anda setelah di tolak oleh pertama, ceritanya cari lain lagi).
    3. Anda seorang wanita, telah didatangi oleh 10 orang lelaki yang menyatakan niat serius untuk menikahi Anda. Namun, ditengah perjalanan proses perkenalan antar keluarga dan persiapan lainnya, selalu saja ada kendala yang menyebabkan, niat baik itu tidak terjadi. Hingga sampai sekarang Anda masih tetap sendiri.
    4. Anda seorang yang dulu pekerja (employee) sudah memutuskan pensiun dini. Kemudian mulai membuka usaha sendiri. Jenis usaha pertama anda kerjakan ”Bisnis pulsa”. Sayang, hasilnya tidak sesuai harapan Anda. Kemudian anda coba dengan ”Bisnis EO”, pun hasilnya tidak sesuai harapan Anda. Bahkan mencoba berganti dengan jenis usaha lain, hingga sampai sekarang, belum ada hasil sebagaimana Anda harapkan.


    Pertanyaan saya, pada contoh kondisi di atas  ;

    1. Apakah Anda akan mengatakan kepada diri anda ”Aku memang tidak cocok jadi Sale/penjual, buktinya sudah beberapa kali aku melakukan penawaran/prospect tidak ada yang beli”.
    2. Apakah Anda akan berpendapat tentang diri Anda ”Aku memang tidak layak untuk di cintai, memang aku tidak pantas dengan nya, lebih baik aku menjomblo saja”.
    3. Apakah Anda akan memutuskan mengenai diri Anda ”Seperti nya aku memang terlahir untuk sendiri selamanya, karena sudah 10 orang lelaki mencoba membangun hubungan, toh hasilnya nihil”.
    4. Apakah Anda akan menganggap diri Anda ”Ternyata aku memang tidak bakat dan cocok jadi pedagang (pengusaha), lebih baik aku melamar bekerja kembali. Sudah 4 kali ganti usaha, hasilnya tetap aku rugi”.


    Empat contoh gambaran peristiwa di atas, hanyalah sebagian kecil dari banyaknya peristiwa dalam kehidupan ini, yang amat mengasyikkan untuk kita bahas. Namun, cukuplah itu saja dulu untuk menjelaskan ”Mengubah Nasib dengan Kata”. Entah seperti apa kata-kata yang terbingkai dalam fikiran Anda, seandainya perumpamaan di atas, Anda yang mengalaminya. Apakah akan seperti anggapan di atas tadi? Mudah-mudahan saja tidak.

    Pada akhirnya, Mengubah Nasib dengan kata adalah keahlian, kesadaran, kejelian, dalammemutuskan memilih dan menyusun kata-kata untuk memaknai, mengartikan dan menyikapi suatu peristiwa dan kejadian yang Anda alami. Sekali lagi, Nasib Anda dan saya, sangatlah tergantung dari keputusan kata-kata yang Kita pilih, gunakan, ambil untuk membingkai suatu kejadian. Karena, hampir keseluruhan tindakan dan perilaku kita, sangat tergantung pada kata-kata yang tersusun dalam fikiran kita. Baik itu disadari atau tidak. Jadi, dengan mengubah kata, kita telah mengubah nasib kita. Dan mengubah nasih adalah dengan menstruktur kata-kata yang tepat pada konteksnya.

    Ciganjur, 10 Maret 2011

    2011-03-13 08:20:00 | Komentar di non-aktifkan untuk artikel ini

  • Kabar Buruk benar-benar Buruk ?

    "Tingggggg!", blackberry saya berbunyi.

    "Hallo Mas Prass ... mau nanya sesuatu nih .. boleh ?", begitu tulisan berita blackberry messenger  dari sahabat di Pekanbaru yang berprofesi sebagai dokter.

    "Boleeeehhh...", jawab saya singkat.

    "Bagaimana cara yang efektif menyampaikan kabar buruk tanpa menjatuhkan mental orang yang menerima kabar buruk tersebut mas ? Karena kabar kali ini adalah kabar buruk kedua lainnya yang bakal dia terima kenyataannya, yaitu dia tidak lulus untuk memperoleh kursi sebagai calon pegawai negeri sipil ...", tanya dr. Abi, sahabat saya itu.

    Kali itu 'mood' saya untuk memprovokasi sedang bagus.

    "Yang menamakan hal itu 'kabar buruk' siapa ya ?", tanya saya.

    "Secara umum, memang kabar itu 'kabar buruk' karena yang disampaikan nggak ada bagus-bagusnya ..", jawabnya. "Hmmm .. mas Prass mau menggiring saya ke arah 'negative motivation' ya ?", lanjutnya.

    "Apa bagusnya tidak lulus CPNS ?", tanya saya.

    "Bagusnya .. ? .. ya bisa mencoba peluang lain ...", jawabnya.

    "Saya punya teman yang ketinggalan pesawat ... Dia bilang kabar buruk !. Dua jam kemudian pesawat itu jatuh di Berastagi. Semua penumpangnya tewas. Dua jam kemudian 'kabar buruk' itu menjadi 'kabar baik'. Dia sangka musibah, ternyata penyelamatan ... Ini real story ...", ujar saya.

    "Iya mas ... saya juga membaca kisah itu di buku PROVOKASI mas Prass ...", jawabnya.

    "Mas menyangka tidak lulus CPNS itu kabar buruk. Siapa tahu itu sebenarnya kabar baik ?", pancing saya. "Jangan-jangan misi hidup dia yang sesungguhnya bukan menjadi CPNS ?"

    "Jadi sebaiknya bagaimana cara menyampaikannya ?", tanya dia lagi.

    Saya sebenarnya ingin 'mengacak-acak' dulu mindset dia terlebih dahulu karena justru teman saya itu yang duluan menamakan berita itu sebagai 'kabar buruk'.

    "Tidak ada orang yang suka mendengar kabar buruk. Lha, kalau mas Abi sendiri sudah bilang itu kabar buruk, lantas mau dibungkus apapun, tetap saja yang sampai adalah 'kabar buruk' dan tidak disukai ..", jawab saya. "Yang membikin buruk itu 'kan arti yang diberikan sendiri oleh yang mendengar berita itu. Jadi biarkan dia bertanggungjawab atas arti yang dia berikan sendiri kepada sebuah berita dan peristiwa,  juga bertanggungjawab atas perasaan-perasaan yang muncul akibat arti yang ia berikan sendiri tersebut .."

    "Lantas yang 'ideal' dilakukan saat sekarang apa dong mas ?", kejar dia.

    "Tanyakan saja dulu, seandainya dia nggak lulus CPNS, bagaimana sikap dia ... Dari situ 'kan mas Abi akan paham apa arti yang ia berikan kepada berita itu  ... Barulah setelah itu mas Abi bisa tahu cara menyampaikan yang lebih netral dan membangun dirinya itu yang bagaimana ...", jawab saya.

    "Iya juga ... Nggak terpikirkan sama saya ... that's something new for me ...", jawabnya.

    "Jadi tadi mas Abi kan bermain dengan pikiran sendiri ? ... hehehe ...", ledek saya.

    "Iyaaaa ... mungkin kabar buruk itu saya sendiri yang menciptakannya, karena saya sebenarnya berharap besar dia lulus CPNS. Jadi sebenarnya saya yang menciptakan aura dan suasana seperti itu dan seolah-olah dia juga menanggapi dengan cara yang serupa ...", jawabnya. "Maklum mas, terbawa cara menyampaikan prognosis ke pasien tentang penyakitnya  ...".

    "Hehehehe ...", respon saya.

    "Mas Prass angkat saja topik "kabar buruk apakah benar-benar buruk?" di siaran PROVOKASI. Pasti seru !. Nanti saya ikut SMS menanyakan yang aneh-aneh biar mas Prass berat mikirnya ..", jawabnya.

    "Hehehee ... maksudnya 'berat' buat anda 'kan ?", kilik saya.

    "Wkwkwkwk ... i'm playing with my own thought again ....", jawabnya ***

    2011-01-11 06:38:00 | Komentar di non-aktifkan untuk artikel ini

  • Makna Ikhlas

    Saya menyapa kolega saya, direktur sebuah perusahaan jasa investasi. Sebulan sebelumnya saya baru saja memfasilitasi pelatihan dua hari mengenai personal mastery dan hypnotic selling skill. Saya ingin tahu bagaimana dampak pelatihan yang saya fasilitasi terhadap perubahan perilaku dan kinerja mereka karena saya akan bertemu lagi dengan peserta untuk follow-up class. Jawabannya mengejutkan : sebulan setelah dilakukan pelatihan, sales menurun !.

    "Apa yang membuat sales itu turun mbak ?", tanya saya.

    "Lha ya itu, mereka sekarang pasrah. Alasannya, 'kan diajarin Pak Prass pakai the law of attraction. Kalau sudah membayangkan dengan jelas apa yang diinginkan dan minta dalam doa, terus yakin, terus ikhlas siap menerima apapun jalannya. Jadi kalau mereka mau prospek terus hujan deres, atau nggak dapat janji, ya sudah terima saja ... ikhlas ..", jelas kolega saya.

    "Hahaha .... ! Salah kaprah .... Kalau begitu, kita kumpulkan mereka lebih cepat saja, mbak ..", pinta saya.

    Di pelatihan sebelumnya, saya memang menjelaskan sedikit soal the law attraction yang sedang menjadi 'selebriti' dan digandrungi oleh para pencari ilmu kesuksesan hidup saat itu. Karena saya hanya menyinggung sedikit dan 'kulit'nya saja, saya menjadi mafhum mengapa oleh peserta ditangkap, dicerna, dan diartikan sebagaimana yang diceritakan kolega saya itu.

    Di hadapan para peserta yang telah dikumpulkan, saya lantas menggali dulu pemahaman mereka soal materi pelatihan yang telah mereka ikuti, khususnya soal the law of attraction yang rumusnya ask-believe-receive.

    "Teman-teman, memang banyak yang 'meleset' di pemahaman soal ask-believe-receive.  Minta dalam doa dengan visualisasi yang jelas - yakin Tuhan dan alam merespon untuk mewujudkan keinginan kita itu - lantas siap menerima dengan ikhlas apapun jalannya. Tetapi banyak yang keliru dalam implementasinya. Mereka menyangka hanya dengan visualisasi dan yakin, nanti apa yang diminta akan datang sendiri. Hasil diraih dengan tindakan...", buka saya.

    Peserta masih menunggu penjelasan lebih lanjut.

    "Jadi, kalau anda sudah punya impian yang jelas dan yakin dapat meraihnya, lalu paham dan sadar untuk mencapai target anda perlu berangkat menemui calon klien untuk prospecting, maka prospecting-lah dengan menerima perasaan apapun saat prospecting. Kalau saat mau prospecting tiba-tiba hujan deras, kemudian anda tidak berangkat, membatalkan janji, dan mengatakan 'ikhlas menerima pembatalan', maka itu bukan ikhlas namanya. Yang namanya ikhlas itu adalah ... anda sadar perlu melakukan kunjungan sebagai syarat untuk terjadi closing, kemudian ketika hujan lebat atau macet anda tetap berangkat menemui calon klien dengan menembus hujan dan macet, dan MENERIMA rasa berat dan susah selama saat menembus hujan dan macet itu dengan ikhlas ! ...".

    Saya melihat para peserta 'kesetrum'.

    Lain waktu, alam menyediakan keadaan dimana saya diminta untuk mempraktekkan apa yang saya ajarkan sendiri. Di suatu malam larut Ibu saya tiba-tiba bilang, "Aku pengen martabak, Prass". Malam itu hujan lebat. Mobil baru dicuci sore harinya.

    Karena ibu saya sudah ahli soal ikhlas, saya bisa saja mengatakan, "Bu, ini 'kan hujan deres, ikhlas aja dulu ya malam ini nggak makan martabak ... ". Tapi manuver 'politik ikhlas' itu akan membuat saya kehilangan kesempatan untuk membahagiakan dan membalas budi ibu saya, dan saya tahu apa yang dapat saya katakan itu hanyalah sebuah 'akal-akalan' alias pembenaran atas kemalasan saya.

    Malam itu, saya tembus hujan dan menerima segala 'rasa' yang muncul dalam perjalanan mencari tukang martabak. Tindakan 'ikhlas' saya berbuah manis. Malam itu saya amat bahagia melihat ibu saya melahap martabak impiannya... ***

    2011-01-10 17:47:00 | Komentar di non-aktifkan untuk artikel ini