-
Kalau ada orang yang mengatakan kepada kita 'tidak bisa', jangan percaya. Mbak Atty, salah seorang staf Pak Suroto kolega saya, minta saya memberi training motivasi untuk timnya hari Senin pagi. Karena waktunya mendadak, hari itu hari Jumat, saya telanjur membuat rencana hari Senin ada dua pertemuan penting di kantor saya. Saya mengatakan tidak bisa dan minta maaf.
Hari Minggunya Pak Suroto secara langsung menelpon saya dan minta bantuan saya. Saya katakan, karena permintaannya mendadak saya tidak bisa. Atas permintaan beliau juga saya berjanji mencarikan speaker/trainer pengganti. Saya menelpon dua orang rekan saya, tapi semuanya berhalangan. Karena unit kerja kolega adalah almamater saya, dan saya punya hubungan baik dengan beliau, akhirnya saya minta pertimbangan teman-teman kantor saya. Mereka menyatakan dukungannya untuk saya memenuhi permintaan kolega saya itu. Akhirnya saya sampaikan ke Pak Suroto bersedia membantu. Hari Senin, menurut kabar, peserta pertemuan tersebut puas dengan materi saya. Sayapun puas bisa membantu Pak Suroto.
Jadi, kalau pada awalnya saya mengatakan 'tidak bisa', ternyata bukannya tidak bisa, tapi tidak MAU bisa. Buktinya akhirnya saya bisa.
Seandainya saya seorang salesperson lalu mengatakan kepada boss : "Maaf pak, saya sudah berusaha, tapi tetap tidak bisa memenuhi target". Itu sebenarnya saya bukannya tidak bisa, tapi tidak mau bisa. Kalau saya menolak ajakan atau undangan seseorang dan bilang tidak bisa karena ada acara lain, sebenarnya saya bukannya tidak bisa, tapi tidak mau bisa. Kalau mau, pasti bisa. Buktinya kalau detik itu saya tiba-tiba ambruk sakit, saya langsung minta diantarkan ke dokter. Acara lainnya jadi batal dan digantikan acara ke dokter bukan ?
Satu-satunya yang memang benar-benar tidak bisa adalah ketika saya minta kepada malaikat : "tolong kembalikan saya ke dunia dan beri kesempatan saya berbuat baik', lalu malaikat itu menjawab : "tidak bisa, anda sudah mati". ***
2007-11-29 03:05:00 | Komentar di non-aktifkan untuk artikel ini
-
Teman SMA saya datang ke kantor dan cerita dia baru saja bergabung dengan sebuah perusahaan sebagai 'marketing'. Sebelumnya dia seorang guru dan belum pernah kerja di bidang marketing (sebenarnya lebih tepat dalam bidang selling). Ceritanya dia direkomendasikan oleh teman SMA lainnya untuk 'belajar' ke saya tentang marketing.
"Ane mau coba sebulan ini. Kalau nggak berhasil ya ane balik jadi ngajar di tempat lama lagi .. Ane udah bilang sama pengurusnya ..", katanya kepada saya.
"Coba sebulan ?" tanya saya. Saya lalu mengambil sebuah bolpen. Lalu dia saya minta untuk mengambil bolpen dari tangan saya ini. "Coba ambil bolpen ini dari tangan saya ..". Dia menjulurkan tangannya lalu, hap, bolpen itu dia pegang.
Saya bilang, "Nahhh ... Itu namanya mengambil .. bukan mencoba mengambil .."
Dia bingung sejenak, lalu ketawa. "Sekarang, sekali lagi coba ambil bolpen ini .."
Dia menjulurkan tangannya ke tangan saya, tapi dia hanya menggapai-gapai.
Dalam beberapa kesempatan saya menganjurkan orang-orang untuk sedapat mungkin menghindari kata 'mencoba', 'berusaha', 'akan', 'harus', bahkan 'Insya Allah'. Mengapa? Sebab tubuh kita sebenarnya tidak bisa mencoba. Buktinya, teman saya itu tidak bisa mencoba mengambil bolpen dari tangan saya. Kalau anda bilang 'coba', itu berarti anda tidak terlalu yakin. Padahal keyakinan membuat fisik kita jadi 'full power'. Maka keberhasilan seringkali lebih kita capai kalau kita yakin. Maka, kalau anda ingin jadi apapun, melakukan apapun, ya tidak usah pakai kata 'coba', tapi lakukan saja. Just do it ... dengan sepenuh fokus dan keyakinan. Kalau sudah fokus & yakin, nanti kalau ada masalah kita bergairah untuk belajar. Nanti kita makin lama makin piawai di pekerjaan kita.
Kata 'akan' tidak memerintahkan bawah sadar kita untuk bertindak. Misalnya, anak buah kita telat melulu. Lalu ketika kita tegor, dia bilang, "Baik pak, baik bu, .. saya akan disiplin ..". Jangan percaya !. Pikiran bawah sadar yang menguasai 88% tindakan hanya bisa diperintah dengan kalimat present tense. Jadi mustinya kalimatnya, "Baik Pak, mulai sekarang saya disiplin..".
Bagaimana dengan harus ? Kata 'harus' memaksa pikiran kita, bahkan sampai menyentuh emosi. Kata harus sering menimbulkan perasaan kurang nyaman. Pikiran menjadi tidak rileks. Padahal, prestasi kita justru lebih optimal jika pikiran kita rileks. Daripada berkata : "Mulai sekarang anda harus memperhatikan hal ini", lebih baik diganti "Mulai sekarang anda PERLU memperhatikan hal ini".
Insya Allah ? Ini sama. Insya Allah-nya orang Indonesia belakangan ini biasanya basa-basi. "Kamu bisa datang ke undangan saya?", lalu dijawab, "Insya Allah deh .." (pakai deh lagi..), maka keyakinan si orang ini tidak 100% .. bisa-bisa cuma lip service. Kecuali kata ini diucapkan oleh mereka yang terbukti memiliki integritas (membuktikan kata dan tindakan sama). Ini PR para pendakwah untuk mengubah arti kata Insya Allah ala basa-basi di pikiran umat dengan Insya Allah versi aslinya dulu.
Ketika saya jelaskan konsep di atas dengan gaye betawi kepada teman saya yang orang Betawi tadi, dia manggut-manggut. Sorot matanya menyiratkan optimisme...**
2007-11-28 23:29:00 | Komentar di non-aktifkan untuk artikel ini
-
ini sekedar cerita ringan pengalaman saya. Kebetulan atas 'desakan' istri, saya ikut latihan kebugaran untuk mengecilkan perut saya yang sudah tampak 'tidak indah' .. alias one pack (bukan six pack). Nama fitness center di Pondok Indah Mall 2 itu saya rahasiakan. Yang jelas di situ banyak selebriti (ini mah percuma dirahasiakan). Supaya progressnya jelas dan terukur, saya pakai personal trainer.
Tibalah waktu 'penyiksaan' itu terjadi. Di matras saya 'diolah' sedemikian rupa ... mulai disuruh angkat kaki sepuluh kali tanpa menyentuh tanah, sit up, push up, lalu angkat kaki tahan di atas, dan seterusnya, dengan modifikasi gaya yang selama ini belum pernah saya lihat dan alami.
Nahhh ... karena personal trainernya perempuan (sengaja biar semangat), gengsi rasanya kalo saya tidak bisa menuntaskan jumlah hitungan. Masalahnya, otot-otot saya sudah gemetaran. Sebagai praktisi hipnosis, saya ingat kalau kita masuk ke trance sedang kita bisa 'body catalepsy' ... Lalu saya memejamkan mata, konsentrasi, atur nafas, hitung 10 sampai 1, rileks, dan saya perintahkan diri saya untuk 'kaku' dan saya bayangkan saya seperti besi baja, sehingga kaki saya tetap bisa digerakkan atau diam dengan tanpa merasa sakit. Ehhh .. ternyata hitungannya bisa dilampaui semua, walaupun habis itu badan sakit-sakit ...
Nah .. ketika saya 'membuka rahasia' sedikit ke Pingkan -- personal trainer saya itu -- saya dimarahi. "Bapak jangan pakai hipnotis ya ... kalau memang nggak kuat hitungan kelima ambruk juga nggak apa-apa ...". Saya yakin dia bilang begitu karena belum tahu seluk-beluk hipnosis.
Sekarang, kalau pas latihan beban dia melihat saya mulai merem, dia langsung mencubit lengan saya. "Ayo, bangun Pak .. bangun .. jangan pakai hipnotis ... ". Salah seorang sahabat yang tahu cerita ini langsung komentar, "Alaaaah ... ngelesss aja loe ... bilang aja sengaja merem biar dicubit ..." ... Hehehehehee ... ketauan ..
2007-11-28 06:13:00 | Komentar di non-aktifkan untuk artikel ini
-
Sampai sekarang saya masih terkagum-kagum dengan Bu Herry. Tahun 1991 ketika saya mengantarkan lamaran ke Bumiputera, Bu Herry adalah Kepala Bagian Pengembangan SDM yang akhirnya memanggil saya, mengetes saya, dan mewawancarai saya. Saya tahu, kalau saja waktu itu Bu Herry mengisi kolom 'tidak lulus', tidak ada yang namanya saya dalam sejarah di Bumiputera. Singkat cerita, akhirnya saya diterima bekerja sebagai clerk di Bumiputera, ditempatkan di Departemen Personalia. Meskipun saya ditempatkan di bagian lain, tapi tetap satu departemen dengan Bu Herry.
Tiga bulan berselang, terjadi restrukturisasi organisasi. Saya dan Bu Herry sama-sama dipindah ke Divisi Pemasaran II. Saya pegawai di Bagian Keagenan & Promosi, sementara Bu Herry Kepala Bagian Distribusi.
Ketika saya selesai tugas belajar 2 tahun di MM-UI, saya ditempatkan di unit yang sama lagi dengan Bu Herry. Beliau Kepala Bagian Hubungan Masyarakat, saya Asisten Kepala Bagian Hubungan Internasional. Sama-sama di bawah Sekretaris Perusahaan. Ketika saya naik pangkat lagi jadi Kepala Bagian Pengembangan SDM, bu Herry Kepala Bagian Sekretariat Direksi. Singkat cerita, akhirnya posisi saya 'agak' lebih tinggi dari Bu Herry ketika saya ditugasi menjadi pimpinan anak perusahaan di bawah Bumiputera Group.
Ketika Bu Herry pensiun dengan jabatan terakhir Pemimpin Cabang Eksekutif, Bu Herry lalu datang ke kantor saya sambil membawa lamaran. Beliau memanggil saya 'Bapak', dan ingin melamar menjadi tenaga profesional di lembaga yang saya pimpin. Meskipun saya bilang tidak usah pakai lamaran karena saya sangat tahu kualitas Bu Herry, tapi demi tertib administrasi, akhirnya lamaran itu saya terima juga.
Sekarang, Bu Herry masih sering membuat saya kikuk. Bagaimana tidak, beliau dulu yang menerima lamaran saya, sekarang saya menerima lamaran beliau. Beliau dulu memanggil saya 'Dik', sekarang memanggil saya 'Bapak' dan berkomunikasi dengan cara yang sangat santun. Satu hal yang membuat saya kagum dan selalu berguru kepada Bu Herry, yaitu semua itu beliau lakukan dengan tulus dan ikhlas. Dari dulu Bu Herry adalah orang yang bisa menempatkan diri. Bu Herry paham betul peran dan kontribusinya, dan bisa memposisikan orang lain sedemikian rupa sehingga proporsional. Di lembaga saya, Bu Herry melakukan tugas dengan 'total football', meskipun secara finansial sebenarnya jauh di bawah apa yang pernah diterima beliau pada jabatan terakhir di Bumiputera. Saya sangat terdukung dengan keberadaan beliau.
Sekarang secara formal saya memang atasan beliau. Tapi secara batin, sebenarnya saya murid beliau. Saya ingat sms Pak Mawarto, Direktur SDM AJB Bumiputera 1912 semalam yang mengirimkan sebuah ayat pendek yang sebenarnya sering saya baca dalam sholat, tapi jarang ingat artinya : ".. dan apabila kamu telah selesai dengan suatu tugas, maka lakukan tugas berikutnya ..., dan hanya kepada Allah perhatian kamu tujukan"...***
2007-11-27 06:39:15 | Komentar di non-aktifkan untuk artikel ini
-
Masih soal sukses. Setelah menggiring peserta pelatihan pegawai bahwa mereka sebenarnya sudah sukses dalam hidup mereka, karena banyak sekali impian dan keinginan mereka di masa lalu telah tercapai sekarang, saya kembali meminta peserta yang merasa sukses untuk berdiri.
Ada salah seorang peserta yang tidak ikut berdiri. Setelah saya tanya, ternyata ia memiliki keyakinan -- termasuk doktrin orang tuanya -- bahwa manusia tidak boleh merasa sukses, tidak boleh merasa puas diri. Katanya, ia takut sebab kalau kita sudah merasa sukses kadang-kadang kita menjadi lupa diri.
Saya langsung menganalisis struktur kalimat yang meluncur dari peserta tersebut. Seperti biasa, saya bermain-main dengan menggunakan kata-kata dia.
"Anda takut lupa diri ? .... " tanya saya
"Ya", jawabnya.
"Bagaimana kalau anda BERANI eling ?, bisa ?" tanya saya lagi.
Ia mulai berpikir.
"Lalu anda bilang, KADANG-KADANG kalau sudah sukses jadi lupa diri. Kadang-kadang berarti TIDAK SELALU bukan ?. Berarti ada juga yang sukses, tapi tetap tidak lupa diri alias tetap eling dan rendah hati ... Ada kan orang yang sukses tapi tetap eling dan rendah hati?"
Ia mengangguk.
"Berarti di depan anda ada dua pilihan, anda takut sukses jadi lupa diri, atau anda berani sukses tapi tetap eling dan rendah hati. Anda pilih yang mana ?"
Ia bilang pilih yang berani sukses tapi eling dan rendah hati.
Lalu saya kembali bertanya ke 52 orang peserta pelatihan. "Oke, kembali saya mempersilakan anda yang merasa sukses untuk berdiri ..."
Semuanya berdiri, termasuk peserta yang saya ajak dialog tadi. ..***
2007-11-27 06:26:00 | Komentar di non-aktifkan untuk artikel ini